PELAKU USAHA GLAGAH PASANG BANNER TANDINGAN-Protes Penataan karena Tak Diajak Rebugan

TEMON (MERAPI) – Para pelaku usaha di kawasan Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo memasang puluhan banner di sepanjang jalan objek wisata tersebut, Selasa (10/9). Banner tandingan yang sebagian dipasang di samping banner sosialisasi milik pemerintah ini berisi penolakan rencana penataan kawasan wisata Pantai Glagah.
Aksi pemasangan banner sebagai bagian dari unjuk rasa para pelaku usaha dilakukan bersamaan dengan Upacara Hajad Dalem Labuhan yang diselenggarakan Kadipaten Pura Pakualaman di kawasan Pantai Glagah. Banner yang dipasang bertuliskan tuntutan agar Detailed Engineering Design (DED) penataan kawasan wisata Pantai Glagah direvisi karena proses pembuatannya tidak melibatkan pelaku usaha sekitar.

“Kami juga minta Pura Pakualaman selaku pemilik tanah di sepanjang pesisir Pantai Glagah melindungi warga dan pelaku usaha yang terdampak penataan,” kata perwakilan pelaku usaha yang juga merupakan Ketua Paguyuban Pondok Laguna Pantai Glagah, Ripto Triyono.
Aksi pemasangan banner, lanjutnya, dilakukan agar pihak Pakualaman mengetahui keresahan yang dirasakan pelaku usaha. Mereka yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah di objek wisata andalan Kulonprogo itu berharap bisa dilindungi dan diayomi.
Penolakan terhadap rencana penataan kawasan wisata Pantai Glagah, menurut Ripto, lantaran selama ini para pelaku usaha tidak mendapat sosialisasi tentang pembuatan DED Pantai Glagah. Pemkab tiba-tiba memasang pengumuman di sejumlah titik yang isinya seruan kepada para pelaku usaha untuk segera mengosongkan lahan usahanya maksimal akhir Oktober mendatang. Sebab pada masa itu, proses penataan akan dimulai.

“Kami mengadu kepada yang punya tanah. Kalau saja Pemkab pakai berembug dengan kita, tentunya tidak akan seperti ini,” imbuhnya.
Perwakilan pelaku usaha yang lain, Gunarti menambahkan, pihaknya menuntut kejelasan tempat relokasi jika rencana penataan kawasan wisata Pantai Glagah benar-benar direalisasikan. Sebab menurutnya, hingga saat ini para pelaku usaha belum mengetahui hal tersebut.
“Selain itu, selama proses penataan biarkan kami tetap beroperasi. Jangan dihentikan karena kami akan terkatung-katung jadinya,” kata Gunarti.
Sementara itu, saat dimintai tanggapannya terkait aksi para pelaku usaha, Pengageng Pambudidaya Kadipaten Pura Pakualam, KPH Kusumo Parasto mengatakan, ketugasan pihak Puro Pakualaman hanya sebatas membantu penataan kawasan wisata Pantai Glagah.

Kewenangan sepenuhnya berada di ranah Pemkab Kulonprogo.
Menurut KPH Kusumo Parasto, para pelaku usaha di sana sudah diingatkan beberapa kali untuk pindah. Apalagi, kawasan ini masuk lingkungan bandara sehingga harus ditata dan ditertibkan secara bertahap.
“Pelaku usaha perlu memahami mekanisme dan aturan yang ada. Mencari penghasilan kan tetap ada mekanismenya,” tegasnya. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Seto Lega Dua Pemain Timnas Bisa Bergabung

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Dua hari jelang laga lawan Semen Padang di Stadion H Agus Salim, Padang, tim pelatih PSS

Close