DIHARAPKAN JADI TELADAN MASYARAKAT-Konsisten Berkarya Budaya Diganjar Penghargaan

KONSISTEN berkarya pada bidang budaya dan seni tidak mudah. Apalagi selama ini hasil dari karya dalam bidang tersebut sebagian besar belum mampu mencukupi kebutuhan hidup lebih para pelakunya. Tapi dengan konsistensi dalam berkarya itu mereka memiliki kelebihan di mata masyarakat. Bahkan menggerakkan masyarakat. Melestarikan budaya dan seni di masa lalu tapi juga memiliki pemikiran ke depan. Tak heran para budayawan dan seniman itu diganjar penghargaan.

Hal tersebut yang membuat Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Yogyakarta memberikan penghargaan kepada 6 budayawan dan senima di kota itu. Mereka adalah tokoh penggiat budaya seni tari Bimo Wiwohatmo, seniman peran Tatik Wardiyono, pelestari bangunan cagar budaya nDalem Pujowinatan KRMT Kastowodiningrat, pimpinan kegiatan Festivak Art Jog, seniman musik band Shaggydog dan seniman panggung Marsudi Wiyono atau Joened.

“Budayawan dan seniman yang kami berikan penghargaan ini adalah mereka yang memiliki konsisten dan komiteman tinggi dalam berkarya. Mereka melestarikan budaya tapi juga berpikiran ke depan,” kata Kepala Disbud Kota Yogyakarta, Eko Suryo Maharsono, di sela penyerahan penghargaan, Selasa (10/9).

Menurutnya budaya itu hidup seperti orang lahir, tua dan mati. Seperti bunga beraneka warna, mekar dan mati. Agar tetap bisa dinikmati maka budaya dan seni harus dirawat dan dijaga dengan serius. Namun dia menegaskan bukan berati budaya itu sebatas kuno masa lalu saja. Tapi juga memiliki pemikiran melihat ke depan.

“Seperti kaca spion kendaraan. Budaya berjalan ke depan tapi juga menengok ke belakang. Tugas kita adalah memperlama nilai-nilai budaya itu,” tambahnya.

Penghargaan kepada para budayawan dan seniman tersebut diharapkan memberikan keteladanan kepada masyarakat. Terutama generasi muda untuk selalu konsisten dan bertanggung jawab terhadap bidang karya budaya dan seni yang dipilih berdasarkan panggilan jiwa. Para budayawan dan seniman yang diganjar penghargaan itu sebelumnya telah dinilai oleh tim penilai dari berbagai latar belakang.

“Harapan kami dari penghargaan ini juga ada dialog tentang masa lalu dan masa datang. Tak hanya melihat masa lalu dan tidak pokok e budaya,” imbuh Eko.

Sementara itu salah satu seniman yang mendapatkan penghargaan Bimo Wiwohatmo mengatakan dengan adanya penghargaan itu bisa menambah semangat kreativitas dan berkesenian. Termasuk para pelaku kesenian dan budaya lainnya bisa termovitasi. “Ke depan akan lebih memancing dan memberikan gairah bagi para pelaku kesenian,” ujar Bimo.

Bimo bergelut di tari selama 30 tahun itu berpendapat kondisi seni tari semakin ketat. Terutama dengan perkembangan teknologi berkesenian kini tak hanya sebatas di panggung bahkan waktu karena bisa diakses melalui internet. Sedangkan kondisi di Kota Yogyakarta menurutnya hampir sekmua ada geliat tari. “Ruang menari bisa di mana saja. Misalnya di Malioboro pada malam hari,” papar Bimo yang menggelar pentas rutin Yogya After Midnight di Malioboro itu.

Namun diakuinya sebagai pelaku seni dan budaya kadang belum menghasilkan lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dia pun bermimpi dari seni dan budaya para pelakunya yang konsisten bisa hidup berkecukupan. (Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Warga Ngalap Berkah Labuhan Puro Pakualaman

TEMON (HARIAN MERAPI) - Kadipaten Puro Pakualaman menggelar upacara Hajad Dalem Labuhan di Pantai Glagah, Selasa (10/9). Tradisi adat yang

Close