Empon-empon Bantu Perekonomian Warga Hargowilis

BERKAT kejeliannya memanfaatkan tanaman di lingkungan sekitar, Maryam (49) kini meraup keuntungan. Warga Dusun Bibis, Hargowilis Kokap, Kulonprogo ini berhasil menjadi pengepul empon-empon sebagai bahan pembuatan jamu tradisional dengan laba yang menggiurkan.

Dalam perbincangan dengan wartawan di sela aktivitasnya mengeringkan empon-empon, Maryam mengaku sudah 10 tahun menjalani usaha tersebut. Idenya diperoleh setelah Maryam melihat tanaman empon-empon yang tumbuh liar di pekarangan sekitar tempat tinggalnya tanpa dimanfaatkan. Padahal, tanaman obat itu punya banyak khasiat.

“Yang jelas menyehatkan badan,” ujar Maryam.

Beragam tanaman empon-empon yang dikelola Maryam di antaranya brotowali, temu lawak, temu kunyit temu ireng dan temu puyang. Dari sekian jenis ini, brotowali merupakan tanaman yang paling banyak tumbuh dan dibudidayakan. Dalam mengumpulkan tanamannya, Maryam tidak bekerja sendiri. Ada sejumlah penduduk desa yang sengaja mencari di pekarangan kemudian disetorkan kepada Maryam.

Setelah dua minggu, Maryam lalu menggarap kumpulan empon-empon dari penduduk desa. Jumlahnya sangat banyak, mencapai lima kuintal. Tanaman mentah ini dirajang pendek oleh Maryam, kemudian dijemur. Setelahnya, dikemas menggunakan plastik berbagai ukuran.

“Lalu saya setorkan ke Purworejo dengan harga Rp 7.000 per kilogram,” ungkap Maryam.

Meski tanaman empon-empon yang disetorkan ke Maryam sangat banyak, namun menurutnya stok di pekarangan warga Hargowilis masih saja ada. Sejumlah penduduk juga sengaja membudidayakan empon-empon dengan menanam tanaman baru. Meski demikian, waktu yang dibutuhkan untuk memanen cukup lama, mencapai satu tahun sejak ditanam.

Maryam juga mengklaim, tanaman ini bisa tumbuh dengan mudah. Musim kemarau maupun hujan juga tidak mempengaruhi pertumbuhannya. Bisa dibayangkan pendapatan yang diperoleh Maryam bersama penduduk desa dalam budidaya tanaman empon-empon ini.

Kasi Pemerintahan Desa Hargowilis, Tukiban menyampaikan, budidaya empon-empon sudah menjadi mata pencaharian tambahan bagi masyarakatnya. Penanaman obat tradisional ini tidak memerlukan lahan yang luas sehingga bisa dilakukan banyak orang.

“Tanam beberapa pohon saja, sudah bisa tumbuh banyak,” ucapnya.

Saat dijual dalam keadaan masih basah, empon-empon kerap dihargai murah. Namun jika sudah kering siap digunakan, harganya menjadi naik. Di Hargowilis tidak banyak yang menjalankan usah budidaya ini, namun mereka yang menjadi penyetor dan pengepul bisa mendapat penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Proses pengeringannya butuh waktu sekitar empat hari. Kondisi lingkungan tidak perlu dikhawatirkan karena penduduk desa yang menyetor ke pengepul, biasanya berinisiatif untuk menanam kembali,” kata Tukiban. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Warga Kedungrong Manfaatkan Irigasi untuk Pembangkit Listrik

BAGI warga masyarakat Kedungrong, Samigaluh, Kulonprogo kebutuhan akan energi listrik bukan lagi menjadi masalah. Pasalnya selain memanfaatkan jaringan listrik konvensional

Close