DIDAKWA GELAPKAN UANG PROYEK- Pemborong Bangunan Mulai Disidangkan


Terdakwa saat mendengar pembacaan dakwaan dalam sidang di PN Bantul. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Terdakwa saat mendengar pembacaan dakwaan dalam sidang di PN Bantul. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

BANTUL (MERAPI) – Pemborong bangunan, SH (45) warga Karangasem Gilangharjo Pandak Bantul mulai diajukan ke sidang pidana Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Kamis (22/8). Terdakwa didakwa telah menggelapkan uang proyek bangunan perumahan senilai Rp 300 juta.

Dalam dakwaan jaksa Maria Goreti Sunarwati SH di hadapan majelis hakim diketuai Dewi Kurniasari SH serta penasihat hukum Mohamad Novweni SH dan Thomas Nur Ana Edi Dharma SH disebutkan, awalnya pada Februari 2018 saksi korban Bernadeta Rita Dwi Prasetyaningsih menjual rumah di Perum Banyuraden Pratama Cokrowijayan Gamping Sleman seharga Rp 750 juta.

Saat itu terdakwa menawarkan menjualkan rumah jika saksi korban bersedia membangunkan rumah menggunakan jasa terdakwa maka terdakwa bersedia membayar rumah dengan harga Rp 750 juta tetapi hanya dibayarkan sebesar Rp 670 juta.

Sedangkan uang sisanya Rp 80 juta digabungkan ke dalam uang muka pekerjaan pembangunan rumah saksi korban yang akan dikerjakan terdakwa. Selanjutnya saksi korban membuat gambar atau desain denah rumah luas tanah 207 m2 yang akan dibangun seluas 265 m2 berupa bangunan 2 lantai.

Setelah itu saksi korban memperlihatkan kepada terdakwa dan setelah ada pembicaraan tentang harga atau biaya pembangunan rumah, terdakwa dan saksi korban saling menyetujui nilai harga pekerjaaan sebesar Rp 600 juta. Atas kesepakatan proyek pembangunan rumah dibuat perjanjian secara tertulis tertanggal 29 Maret 2018 dilakukan di kantor Notaris Tri Wahyuni SH Jalan Imogiri Barat Km 7 Bakung Bangunharjo Sewon Bantul.

Dalam perumusan surat perjanjian kontrak drafnya dibuat terdakwa kemudian saat di kantor notaris terdakwa menyerahkan flash disk dan diprint out di kantor notaris tersebut. Kemudian isi dari perjanjian kontrak tersebut dibaca bersama dan saksi korban juga menyetujui selanjutnya ditandatangani tanggal 29 Maret 2018.

Isi dari draf kontrak kerja antara lain waktu pelaksanaan pembangunan rumah tersebut selama 180 hari senilai Rp 600 juta dengan pembayaran sebanyak 4 termin dan telah dibayar Rp 300 juta.

Namun sekitar April 2018 dilakukan pengecekan proses pelaksanaan pembuatan rumah belum dikerjakan. Akhirnya saksi korban melakukan pertemuan dengan terdakwa dan menanyakan belum dilakukan pekerjaan dengan alasan terdakwa susah mencari tenaga bangunan.

Sekitar satu minggu berkutnya setelah pertemuan saksi korban dan terdakwa memulai peletakan batu pertama pada Juli 2018 dan tidak ada pengerjaan lagi dan berhenti. Akibat perbuatan terdakwa tersebut saksi korban menderita kerugian uang tunai Rp 300 juta. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP dan 378 KUHP. (C-5)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
DIDATANGKAN DARI PADANG – Beli Ganja Wirausahawan Diadili

BANTUL (MERAPI) - Seorang wirausahawan muda, AP alias Bram (25) warga Gondolayu Lor JT II/1223 Cokrodiningratan Jetis Kota Yogyakarta disidangkan

Close