Ubyabi, Olahan Ubi Ungu Kekinian

BAHAN pangan lokal seperti ubi dan singkong, tak banyak mendapat perhatian dari anak-anak dan remaja. Dua siswi MAN II Yogyakarta, Adyani Eka dan Rembulan Ratu Mayang, kemudian berinovasi menyulap ubi ungu menjadi jajanan kekinian dengan nama Ubyabi.

Jika jajanan lain kerap menggunakan tepung sebagai campuran, Ubyabi dibuat dengan ubi ungu murni. Dalam penyajiannya, Eka dan Mayang menggunakan wadah kotak cantik agar lebih menarik. 

“Harganya Rp 6.000 per kotak, tapi ada juga yang menggunakan kemasan besar isi empat kotak dengan harga Rp 20.000,” kata Eka saat memamerkan produknya dalam acara di Kulonprogo, belum lama ini. 

Kepada Merapi, ia kemudian membeberkan cara pembuatan Ubyabi. Ubi ungu yang sudah dicuci bersih dikukus hingga empuk, kemudian dikupas. Setelahnya, ubi dihaluskan lalu diberi campuran gula, garam, vanili dan margarine agar teksturnya lebih lembut.

“Kita beri campuran buah aprikot dan kismis, kemudian dikukus lagi sebentar supaya asam buahnya menyatu dengan ubi, serta vanili nya matang,” imbuh Eka.

Jika dirasa sudah matang sempurna, Ubyabi diangkat, kemudian diberi toping di atasnya. Di sini, Eka menggunakan beragam toping sebagai pilihan, mulai dari keju, kacang hingga mesis.

Rekan Eka, Mayang menambahkan, nama Ubyabi merupakan kependekan dari ubi yummie banget. Jajanan ini merupakan inovasi olahan ubi ungu untuk anak-anak muda yang biasanya malas makan ubi atau singkong. Dengan bentuk dan kemasan menarik, Ubyabi diyakini disukai kaum milenial, terlebih rasa yang ditawarkan juga lebih enak.

“Makan ubi jadi lebih praktis, tinggal disendok saja,” ucapnya.

Mayang mengaku sudah lama berinovasi mengolah ubi menjadi Ubyabi, yakni pertama pada 2010 lalu, saat dirinya masih duduk di bangku SD. Namun setelah itu, tidak ada kelanjutan dari dirinya, dan baru mulai kembali membuat Ubyabi setelah mendapat tugas sekolah beberapa bulan lalu.

Mayang juga merasa prihatin, karena ubi hanya digunakan sebagai pewarna makanan saja mengingat warna ungu yang dikandungnya sangat pekat. Ia kemudian mencoba mengolah ubi menjadi jajanan menarik dan lezat, demi memasyarakatkan bahan pangan lokal.

Mayang mengaku bangga, karena saat dipamerkan, banyak konsumen yang berebut membeli Ubyabi. Ia kemudian berharap, pemasaran produk ini bisa lebih luas hingga ke toko-toko atau pasar tradisional agar semakin banyak yang menikmati olahan ubi ungu karyanya.

“Selama ini, kita cuma pakai sistem delivery, siapa yang pesan kita antar. Produk ini bisa tahan selama dua hari di suhu ruangan atau tiga hari di dalam kulkas,” pungkas Mayang. (Unt)

Read previous post:
2 Binaragawan DIY Lolos ke PON 2020

BANDUNG (HARIAN MERAPI) - Dua binaragawan DIY berhasil menggenggam tiket untuk tampil pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX-2020 di Papua

Close