Mbah Ngadirah Hidup Sebatangkara, Makannya Bergantung Uluran Dermawan

Mbah Ngadirah hidup sebatangkara.
Mbah Ngadirah hidup sebatangkara.

WONOSARI (HARIAN MERAPI) – Hidup sendirian tanpa sanak saudara dialami Mbah Ngadirah, warga Dusun Gari RT 01 RW 11 Gari, Wonosari, Gunungkidul. Nenek 74 tahun ini menggantungkan hidupnya dari belas kasihan para dermawan.

Mbah Ngadirah tidak punya anak. Dulu pernah punya suami, tetapi ditinggal pergi entah kemana. Dia sekarang hidup sendirian di rumah sederhana di tengah pepohonan jati.

Rumah tanpa batu bata itu dibangunkan para tetangga dan komunitas pecinta sepeda motor CB. Baju yang dipakai pemberian orang. Masih ada tulisan sebuah toko pakaian di Yogyakarta.

“Koyo ngene keadaane mas (seperti ini keadaannya mas). Urip dewe (hidup sendirian),” ujar Mbah Ngadirah, saat dikunjunngi di tempat tinggalnya, Jumat (16/8).

Siang itu, terik matahari begitu menyengat tubuh. Mbah Ngadirah duduk di samping rumah ditemani seorang ibu. Mereka berbincang di bawah pohon jati.

Tetangganya, Septian Darmansah, menuturkan kehidupan sehari-hari Mbah Ngadirah bergantung pada uluran tangan dari saudara dan masyarakat sekitar yang peduli terhadap beliau. Simbah hidup sendirian di rumah tua, warisan orangtuanya yang sudah meninggal puluhan tahun lalu.

Pekarangan sudah dibagi-bagi untuk saudaranya. Rumahnya berada di antara pohon-pohon jati. Sehari menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74, kami menyerahkan bantuan dari seorang tokoh yang peduli Gunungkidul, Dr Ir H Wahyu Purwanto MSIE, kepada Mbah Ngadirah.

Simbah mengucapkan terimakasih, maturnuwun, dan mendoakan orang yang meringankan beban hidupnya, diberkahi dan dimudahkan dalam segala hal. “Mugo-mugo Allah ngijabahi opo penjalukane (Semoga Allah mengabulkan apa yang diinginkan),” pinta Mbah Ngadirah. (*)

Read previous post:
MENUTUPI AIB (2) – Panik karena Telat Bulan

PAGI itu Mary sepertinya malas untuk bangun. Kepalanya terasa berat dan pening, sementara perutnya terasa mual mau muntah. Bergegas ia

Close