2 PESERTA MAGANG DICEGAH KARENA ILEGAL- LPK Yoga Mustika Persada Bantah Sita Paspor


Pemilik LPK Yoga Mustika Persada, Harno saat mengklarifikasi isu tentang penyitaan paspor.(MERAPI-ISTIMEWA)
Pemilik LPK Yoga Mustika Persada, Harno saat mengklarifikasi isu tentang penyitaan paspor.(MERAPI-ISTIMEWA)

YOGYA (MERAPI)- Pemilik LPK Yoga Mustika Persada, Harno membantah menyita dua paspor peserta pemagangan ke Jepang, Endri Wahyu Kurniawan dan Nanang Yuni Trianto hingga mereka tak bisa berangkat karena dicegah Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Ngurah Rai Bali. Harno menyebut hal itu sebagai fitnah yang sengaja diembuskan kepada dirinya. Sebab faktanya, paspor kedua peserta magang itu telah digandakan tanpa melewati prosedur yang benar sesuai undang-undang keimigrasian dan memberikan keterangan palsu dalam proses pembuatannya hingga dicegah kantor imigrasi.

“Saya rasa tuduhan tersebut tak berdasar bukti dan merupakan fitnah,” ujar Harno kepada wartawan, Selasa (13/8). Meski demikian, dia membenarkan jika Endri Wahyu Kurniawan dan Nanang Yuni Trianto merupakan peserta magang kerja di LPK Yoga Mustika Persada. Sesuai ketentuan, paspor dan surat lain diambil peserta magang hanya jika dia mengundurkan diri. “Faktanya, kedua peserta magang itu belum mundur dan masih tercatat sebagai siswa LPK kami,” jelasnya.

Makanya dia pun heran jika kedua peserta itu berniat berangkat menggunakan LPK lain, yakni LPK Wakawashi Mandiri Indonesia. Setelah ditelusuri, kata dia, ternyata paspor kedua peserta itu telah digandakan. “Kami sudah dikonfirmasi Kantor Imigrasi Wonosobo dan tahu jika paspor mereka digandakan agar bisa berangkat ke Jepang melalui LPK lain,” katanya.

Ditambahkan, tindakan penggandaan paspor merupakan kejahatan serius lantaran bisa mengancam keamanan negara. “Untuk itu kami juga sudah melaporkan hal itu,” jelasnya. Selain itu, Harno juga membantah setoran uang Rp 45 juta dari para peserta magang digunakan untuk kepentingan pribadi sehingga peserta tidak bisa berangkat mengikuti magang ke Jepang. Dia menyebut, uang itu justru digunakan untuk keperluan peserta magang selama pelatihan.

“Sebelum berangkat ke Jepang, peserta magang harus menjalani pelatihan. Dan biaya pelatihan menggunakan uang tersebut. Jadi tak benar jika saya dituduh menggunakan uang untuk keperluan pribadi,” jelasnya.

Untuk itu, dia berharap kasus ini tak menimbulkan kecurigaan publik yang merugikan dirinya. “Intinya kami tak pernah menyita paspor dan menahan keberangkatan peserta magang. Kami sudah bertindak sesuai aturan yang ada,” tandasnya. (*)


Read previous post:
Menang Banyak dan Enak! Mi Ayam Ini Porsi Dagingnya Tiga Kali Lipat

PERNAH membayangkan jika anda makan mi ayam dengan siraman daging tiga kali lebih banyak dari porsi seharusnya? Pastinya enak sekali.

Close