MENINGGAL DI MAKKAH SAAT HAJI-Keinginan Mbah Moen Wafat Hari Selasa Terpenuhi

MAKKAH (MERAPI) – Ulama kharismatik KH Maimoen Zubair, atau akrab disapa Mbah Moen, wafat dalam usia 91 tahun di RS An Noer Makkah, Selasa (6/8) pukul 04.17 WAS.
“Tentu kami sangat berduka, bersedih karena kehilangan orangtua, guru kita jelang Subuh tadi. Sungguh-sungguh sangat kehilangan. Karena itu kami mengajak semua umat Islam di Indonesia, khususnya murid, anak untuk mengikhlaskan kepulangan beliau,” sebut Menag RI Lukman Hakim Saifuddin di RS An Noer, Makkah.
Lukman menambahkan, boleh sangat terpukul dengan kepergian almarhum almaghfurlah KH Maimoen Zubair, namun dimohon semua mengikhlaskan. “Insya Allah beliau husnul khatimah. Marilah doakan beliau,” sambungnya.
Selain itu Menag juga menuturkan seluruh umat Islam Indonesia bisa mendoakan dan melaksanakan salat gaib untuk almarhum. Menag mendoakan almarhum ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Kemarin jenazah Mbah Moen sudah diberangkatkan dari RS An Noer Makkah menuju Kantor Urusan Haji Indonesia Makkah untuk disemayamkan.

Dengan berbagai pertimbangan dan atas persetujuan kerabat serta keluarga, almarhum rencananya akan dimakamkan di Mala Makkah.
“Beliau merupakan panutan umat Islam di Indonesia. Seorang ulama yang alim dan mulia berilmu tinggi nyaris tidak ada yang menandingi. Sulit untuk mengatakan, tapi semua tahu seperti apa beliau. Allah SWT sudah menakdirkan sesuatu yang baik. Banyak hikmahnya, mudah-mudahan santri, murid, anak-anak beliau yang sangat banyak akan mampu meneruskan perjuangan beliau,” ucap Lukman yang tidak kuasa menahan air mata.
Sementara KH Labib Shodiq Suhaimi, pengasuh PP Al Hikmah Brebes mengatakan, sekitar 3-4 bulan lalu Mbah Moen sempat menyatakan ingin meninggal di hari Selasa dan waktu berhaji di Makkah. Dan kini, beberapa bulan kemudian, tepatnya Selasa (6/8) atau bertepatan 5 Dzulhijjah 1440H yang merupakan musim haji, Mbah Moen wafat saat berada di Makkah dan hendak mengerjakan ibadah haji.
“Pesan itu pas hari ini dan berada di Makkah,” ucap KH Labib Shodiq Suhaimi.

Almarhum yang sudah sejak 29 Juli 2019 berada di Tanah Suci begitu awal kedatangan sudah langsung diserbu ratusan santri, pejabat, ulama dan jemaah yang mengetahui keberadaan beliau. Sama halnya ketika di tanah air yang tamunya terus mengalir 24 jam, saat di Saudi Arabia hal itu juga terjadi.
Saat dalam kondisi capek itulah, kondisi Mbah Moen drop dan langsung dibawa ke rumah sakit hingga akhirnya tutup usia.
Mbah Maemun Zubair adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Dilahirkan di Karangmangu Kecamatan Sarang, Rembang hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H atau 1348H atau 28 Oktober 1928. Ayahnda Mbah Maimoen, yaitu Kyai Zubair, adalah murid ulama kesohor Syaikh Sa’id Al-Yamani, dan Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.
Setelah menikah, saat itu mbah Moen berumur 25 tahun, beliau sempat menjadi kepala pasar Sarang selama 10 tahun. Dan dari ajaran ayahnya, mbah Moen meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya, beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan.
Mbah Maimun Zubair mempunyai 10 anak. Yaitu KH Abdullah Ubab, KH Gus Najih, KH Majid Kamil, Gus Abd Ghofur, Gus Abd Rouf, Gus M Wafi, Gus Taj Yasin (Wagub Jateng), dan Gus Idror, serta dua putri, Sobihah (Mustofa Aqil) dan Rodhiyah.
Pendidikan

Sebelum menginjak remaja, mbah Moen rajin menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara’ yang lain. Sehingga, pada usia 17 tahun, mbah Moen sudah hafal di luar kepala kitab-kitab nadzam. Di antaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Bahkan, beliau melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.
Pada tahun kemerdekaan, mbah Moen menimba ilmu ke Pondok Lirboyo Kediri, yang saat itu dibimbing KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Selain itu, juga berguru ke KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi.
Menginjak usia 21 tahun, diajak kakeknya (KH Ahmad bin Syu’aib), mbah Moen belajar ke Makkah Al-Mukarromah.

Beliau menerima ilmu dari beberapa guru ngaji ternama. Di antaranya Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki, Syekh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syekh Yasin bin Isa Al- Fadani, dan Syekh Abdul Qodir Almandily.
Sepulang dari Makkah, mbah Moen tetap mengaji dari ulama besar di tanah air. Kemudian beliau, pada tahun 1967 mendirikan pesantren Al Anwar di Karangmangu Sarang Rembang. Bahkan pada tahun 2008, dibangun lagi ponpes Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang. Untuk ponpes yang kedua ini, sekarang diasuh KH. Ubab Maimun, putranya.
Mbah Moen, pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun. Kemudian diangkat menjadi anggota MPR RI (utusan Provinsi Jateng) selama tiga periode. Lalu, saat NU sedang ramai mendirkan PKB (1998), mbah Moen lebih memilih diam dan istiqomah di PPP. (Feb/Cuk).

Read previous post:
POLDA DIY TERIMA LAPORAN JANDA DIANIAYA PACAR-Serahkan Bukti Foto Usai Dipukul Oknum Polisi

DEPOK (MERAPI)- Penyidik Polda DIY telah menerima laporan seorang wanita, OKD (28) warga Sleman yang diduga dianiaya pacarnya, seorang anggota

Close