DIKUKUHKAN BUPATI SLEMAN: KSB dan Satgas Desa Pelopor Bebas Napza

MERAPI-ATIEK WIDYASTUTI H  Bupati Sleman mengerahkan surat keputusan pengukuhan KSB dan satgas desa pelopor bebas napza.
MERAPI-ATIEK WIDYASTUTI H
Bupati Sleman mengerahkan surat keputusan pengukuhan KSB dan satgas desa pelopor bebas napza.

SLEMAN (MERAPI) – Bupati Sleman Sri Purnomo mengukuhkan satgas desa pelopor anti napza dan forum komunikasi Kampung Siaga Bencana (KSB) Kabupaten Sleman. Pada kesempatan tersebut dikukuhkan 15 desa pelopor anti napza dan sembilan KSB.
Untuk desa pelopor anti napza, saat ini sudah terbentuk di 63 desa yang sepakat untuk bersama memberantas peredaran narkoba. Tingginya kasus penyalahgunaan narkotika, membuat pemerintah tidak bisa bekerja sendirian.

“Kita butuh kerjasama antar pihak dalam hal pemberantasan narkoba ini. Mengingat peredarannya tidak pandang bulu. Menyasar semua kalangan dan golongan. Saat ini korban dari narkoba tidak hanya menyasar dewasa saja. Namun mulai dari anak-anak,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sleman Eko Suhargono di sela-sela pengukuhan di Gerung Serbaguna Sleman, Selasa (23/7).

Adanya desa pelopor anti napza ini lebih ke langkah pencegahaan saja. Mereka terlebih dahulu mendapatkan pembekalan yang berkaitan dengan narkoba. Mulai dari jenisnya, bahaya sampai proses pelaporannya. “Desa yang sudah mendeklarasikan diri sebagai desa pelopor anti napza juga bisa menerima laporan. Untuk selanjutnya diteruskan kepada pihak yang berwenang,” ungkapnya.

Sementara itu untuk KSB, tugas mereka lebih yang berkaitan dengan sosial. Seperti menyediakan kebutuhan pangan dan sandang ketika ada bencana. Nantinya di KSB juga memiliki lumbung siaga bencana. Dimana di dalamnya terdapat kebutuhan yang berkaitan dengan bencana, seperti baper stock

. “Dari semua desa yang sudah terbentuk KSB, sudah memiliki lumbung siaga bencana,” ungkapnya.

Bupati Sleman Sri Purnomo menjelaskan, satgas ini akan menjadi benteng utama dan pertama dalam mengantisipasi peredaran narkoba. Pasalnya ancaman bagi generasi muda ini sangat memprihatinkan. Apalagi saat ini distribusinya sudah semakin canggih, bahkan berbasis IT. Untuk peredarannya tidak kenal batas wilayah.
“Mutlak dibutuhkan kerjasama yang serius dalam hal penanggulangan ini. Tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja. Namun kita bersama,” katanya.

Sedang untuk KSB, Sleman termasuk daerah dengan tingkat kerawanan bencananya tinggi. Mulai dari erupsi Gunung Merapi, angin hingga gempa bumi. (Awh)

Read previous post:
MERAPI-ANTARA/SUTARMI Telaga di Gunungkidul yang mengering.
Ratusan Telaga Gunungkidul Mengering

WONOSARI (MERAPI) - Sebanyak 355 dari 460 telaga di Kabupaten Gunungkidul, mulai mengering karena tidak ada hujan dalam kurun waktu

Close