ALIRAN LINDI TPAS BANYUROTO AKAN DIPINDAH-Warga Sambiroto Khawatirkan Pencemaran Lingkungan

Anggota DPRD Kulonprogo mengecek instalasi pengolahan lindi di TPAS Banyuroto. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

NANGGULAN (MERAPI) – Aliran lindi atau cairan sampah dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Banyuroto, Nanggulan, Kulonprogo yang ditampung ke dalam cekdam desa setempat akan dialihkan ke selokan Dusun Sambiroto. Kondisi ini meresahkan warga karena dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan.

Kebijakan pengalihan aliran lindi ini diambil setelah lahan yang disewa Pemdes Banyuroto untuk cekdam diminta kembali oleh pemiliknya karena akan digunakan untuk keperluan lain. Air limbah TPAS kemudian akan dibuang ke selokan.

“Warga khawatir akan mencemari lingkungan,” kata tokoh masyarakat Sambiroto, Bambang Nur Cahya, Senin (15/7).

Ia mengungkapkan, kekhawatiran ini muncul lantaran warga sekitar cekdam sudah lebih dulu merasakan dampak pencemaran sejak lama. Saat musim hujan tiba, volume air lindi di cekdam selalu meluap hingga mencapai pemukiman. Akibatnya, banyak sumur yang keruh dan berbau tak sedap.

Disebutkan Bambang, pencemaran tersebut telah menimpa sedikitnya 40 KK di Dusun Sambiroto. Saat musim hujan tiba, kondisinya akan lebih parah karena air limbah langsung masuk ke dalam sumur.

“Warnanya hitam keruh. Kami sudah menyampaikan keluhan ini beberapa kali kepada Pemkab. Mereka berjanji akan mengolah limbah dengan baik lalu dilakukan perbaikan saluran pipa, tapi sekarang rusak lagi dan belum ditindaklanjuti,” urainya.

Warga terdampak pencemaran lindi, Rubiyem (64) menyampaikan, sumur di rumahnya sudah berbau menyengat sejak dua tahun lalu. Saat hujan turun, air sumur menjadi keruh.

“Kami harus beli air galon untuk memasak. Sebab jika tetap digunakan takut berisiko,” ucapnya.

Karena itulah, warga berharap agar rencana membuang air lindi ke selokan Dusun Sambiroto dipikirkan secara matang. Mereka juga meminta, Unit Pelaksana Tenis (UPT) Persampahan, Air limbah dan Pertamanan DPUPKP Kulonprogo selaku pengelola TPAS Banyuroto dapat melakukan antisipasi, salah satunya dengan membangun talut agar limpahan air limbah tak menerpa permukiman warga.

Wakil Ketua DPRD Kulonprogo, Ponimin Budi Hartono yang meninjau langsung Kondisi TPAS Banyuroto bersama anggota Komisi III meminta agar Pemkab segera menanggulangi permasalahan ini. Terlebih keberadan TPA Banyuroto merupakan fasilitas vital.

“Kami nilai perlu ada pelebaran zona untuk tempat penampungan sampah. Permintaan tentang pembangunan talud juga harus diperhatikan agar tidak mencemari lingkungan dan sumur warga,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Persampahan, Air limbah dan Pertamanan DPUPKP Kulonprogo, Toni mengatakan, permintaan warga untuk pembuatan talut saat ini sedang diverifikasi. Sebagai upaya antisipasi pencemaran lingkungan, pihaknya akan mengoptimalkan pengolahan lindi dengan menambah sarana prasarana.

“Tapi memang harus menyesuaikan ketersediaan anggaran,” katanya. (Unt)

Read previous post:
Kunker Kalbar, Ditjen PSP Minta Kabupaten Landak Petakan Potensi Pertanian

LANDAK (HARIAN MERAPI)- Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong Pemerintah Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Kalbar) melakukan pemetaan wilayah potensi pertanian untuk diajukan

Close