Risiko Gagal Panen Tinggi, Petani Cabai Langsung Menjual di Pasar

Cabai mengering akibat kemarau. (Foto: Abdul Alim)
Cabai mengering akibat kemarau. (Foto: Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Kenaikan harga cabai tak terlalu menguntungkan petani. Mereka masuh berhitung kerugian akibat risiko bertanam di musim kemarau.
Petani cabai jenis beauty di Desa/Kecamatan Jaten, Andy Purnomo mengatakan sengaja menjual hasil panen langsung ke pedagang di pasar. Ia tak lagi melepasnya ke tengkulak, meski itu lebih memudahkannya.

“Selisih dua ribu tiga ribu rupiah lumayan. Dibanding jual ke tengkulak. Saya harus memantau sendiri harga pasar, baru kemudian mengangkut ke sana. Enggak pakai tengkulak, karena pendapatan tidak bisa makimal,” katanya, Minggu (14/7).

Panen cabai di lahannya seluas 3.200 meter persegi kurang bagus. Ia memiliki lahan di dua lokasi hamparan. Cuaca terik, kurang air dan serangan penyakit patek pada tanaman membuat buah mengering dan tak berkembang.

“Tiba-tiba alum ( tanaman layu) dan kering. Keringnya itu tidak sampai seminggu. Dua tiga hari sudah kering,” katanya.

Kondisi tersebut sebenarnya telah dialami di musim tanam lalu. Ia kembali menanam cabai karena terpikat harganya yang sedang bagus. “Per kemarin, cabai saya dibeli Rp 47 ribu perkilo. Memang harganya bagus. Tapi risikonya juga besar. Tak semua ditanami cabai. Ada tomat dan terung. Untuk modal tanam per patok Rp 35 juta. Itu yang membuat saya enggak menjual ke tengkulak, namun langsung ke pedagang di pasar. Supaya keuntungan bisa menutup modal,” katanya.

Prediksi memperoleh panenan 1 kuintal cabai luput. Ia menghitung 30 persen tanamannya rusak. Selain faktor cuaca terik dan tanaman kekurangan air, tiupan angin kering juga berpengaruh. Untuk mengantisipasi tanaman layu dan keringan, dua pekerjanya menyirami tanaman setiap dua hari sekali. Di tahun ini, ia telah dua kali menanam cabai. Kualitas tanah di tanam kali ini tak sebagus tanam pertama. “Kalau kondisi seperti ini, sulit mengejar panen saat Idul Adha,” lanjutnya.

Kondisi berlainan dialami petani sayuran di Desa Gumeng, Jenawi. Di wilayah lereng Lawu itu, penyebab tanaman rusak justru suhu dingin ekstrem.
“Daun cabainya mengerdil dan keriting. Biasanya siang, suhu berangsur normal. Tapi tetap saja masih dingin menggigil sampai berakibat ke tanaman cabai,” katanya. (Lim)

Read previous post:
Aset BPR-BPRS di DIY Total Mencapai 7 Triliun

SEWON (MERAPI) - Kehadiran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang menyediakan produk keuangan serupa bank

Close