Tampilkan Aksi Keren, 210 Kuda Berparade di Festival Sandalwood 2019

WAINGAPU (HARIAN MERAPI) – Sebanyak 210 ekor kuda dari lima kecamatan, mengikuti Parade Kuda Sandel, Jumat (12/7/2019). Atraksi yang sangat keren itu paling ditunggu dari Festival Sandalwood 2019. Parade Kuda Sandel digelar Jumat (12/7/2019), di Savannah Puru Kambera, Kanantang, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Lima Kecamatan yang mengikuti event ini adalah Waingapu, Kambera, Pandawai, Kanatang, juga Haharu. Ada beberapa tema yang ditampilkan dalam setiap aksi kuda sandel. “Selain tenun, kehadiran Parade Kuda Sandel merupakan momentum yang dinantikan. Sebab, Kuda Sandel jadi ikon Pulau Sumba. Posturnya pun khas dengan daya tahan luar biasa. Kuda tersebut sangat kuat. Parade Kuda Sandel memang menarik dengan beragam pernak pernik yang menyertainya,” ungkap Staf Khusus Menpar Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, Jumat (12/7/2019).

Mengawali parade, lagu khas Sumba diperdengarkan. Diikuti dengan pembacaan syair. Suasana makin eksotis dengan hamparan savana yang berbukit. Savana tersebut langsung berbatasan dengan Pantai Puru Kambera. Suasana jadi hiruk pikuk oleh kehadiran delegasi Pandawai. Menarik perhatian pengunjung, mereka menampilkan tema Peristiwa Penguburan Raja.

Kecamatan Pandawai tampil lengkap dengan beragam piranti upacara. Mereka juga merekonstruksi prosesinya. Ada juga simulasi pengorbanan berupa kuda dan hambanya. Mengacu kepercayaan masyarakat setempat, bila raja meninggal harus disertai dengan kuda dan seorang hamba. Harapannya kuda dan hamba itu menjadi pendaming sang raja di alam baka.

“Tentu sangat bersyukur bisa menikmati Parade Kuda Sandel di alam bebas seperti ini. Udaranya juga sangat segar di sini. Untuk penyelenggaraan festival tahun depan harus dibuat lebih hebat dan menarik lagi. Berbagai infrastruktur juga harus ditambahkan di venue ini,” jelas Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat.

Suasana semakin meriah, saat perwakilan Haharu menampilkan simulasi Tradisi Berburu masyarakat Bumi Merapu. Mereka menaiki kuda lengkap dengan beragam peralatan, seperti tombak. Biasanya para masyarakat melakukan perburuan babi dan rusa.

Tradisi ini sudah dijalankan secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Apalagi, Haharu menjadi lokasi pendaratan nenek moyang mereka di Sumba. “Apresiasi harus diberikan kepada masyarakat Sumba yang selalu menjaga tradisinya. Kawasan ini memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. Dan tentu bagus, khususnya secara ekonomi. Agar potensi makin optimal, maka perlu dilakukan penguatan amenitasnya. Konsep Nomadic Tourism sangat ideal diterapkan di Sumba,” tegas Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuty.

Tema berbeda disajikan Kanatang. Mereka menampilkan simulasi Perang lengkap dengan tombak dan perisai. Tema tersebut menjadi isyarat kalau masyarakat Bumi Merapu siap mempertahankan tanahnya dari cengkeraman penjajah. Tema serupa juga ditampilkan delegasi dari Waingapu.

Menegaskan keberagam budayanya, prosesi meminang (Purru Ngadi) disajikan delegasi Pandawai. Aktivitas ini melibatkan 2 keluarga besar dari pihak mempelai putra dan putri. Saat meminang, disertakan juga beragam barang-barang hantaran. Berikutnya, ditampilkan juga simulasi membawa serta pengantin wanita atau Plai Ngandi Tau.

“Kuda Sandel memang menjadi idenitas Sumba. Fungsinya beragam, selain juga digunakan sebagai alat transportasi. Dengan potensi besarnya, Festival Kuda Sandel ini memang bisa disajikan lebih meriah. Konten atraksinya sudah luar biasa,” papar Asisten Depduti Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenar Muh. Ricky Fauziyani.

Stakeholder pariwisata di sana memiliki komitmen untuk membuat Festival Sandalwood tahun depan lebih meriah. Rencananya Festival Sandalwood 2020 akan ditopang selueuh kabupatwn di Pulau Sumba. Untuk parade diproyeksikan diikuti 5.000 peserta Kuda Sandel. Stakeholder juga berkomitmen untuk menghadirkan infrastruktur pendukung di venue Puru Kambera.

“Kami tentu gembira karena event digelar lancar. Respon publik juga positif. Kalau ingin maksimal, maka perubahan harua dilakukan pada tahun depan. Sinergi harua dilakukan agar lebih optimal, apalagi potensi pariwisata di Sumba sangat luar biasa,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.(*)

Read previous post:
Mabuk dan Ngisruh

MABUK dan ngisruh adalah dua perbuatan yang berbeda yang punya dampak hukum. Sebagai ilustrasi, orang yang menenggak minuman keras (miras)

Close