Pabrik Miras Oplosan Digrebek Polisi

MERAPI-SAMENTO SIHONO Petugas Polda DIY menunjukkan barang bukti miras oplosan hasil racikan RD.
MERAPI-SAMENTO SIHONO Petugas Polda DIY menunjukkan barang bukti miras oplosan hasil racikan RD.

DEPOK (MERAPI)- Bermodal alkohol, kulit lemon serta gula pasir, RD (31) warga Samirono Baru, Condongcatur, Depok, Sleman nekat meracik minuman keras oplosan. Tanpa diduga, mirasnya laku keras. Dengan harga cukup mahal, Rp 160 ribu perbotol, dia berhasil menjual 30 botol tiap hari. Dia pun untung besar dari usahanya ini.
Di tengah menikmati keuntungan berlipat dari bisnis ilegal ini, pabrik miras oplosan milik pelaku digrebek aparat Ditreskrimsus Polda DIY. Di lokasi penggrebekan, petugas mengamankan barang bukti 20 botol miras merek Conti siap edar dan uang Rp 19,8 juta hasil penjualan oplosan ini.
Dir Reskrimsus Polda DIY, Kombes Pol Y Tony Surya Putra kepada wartawan, Kamis (11/7) mengatakan, pelaku beraksi seorang diri dalam mengembangkan pabrik miras oplosan itu.

“Pelaku ini melakukan aksinya hanya sendirian, mulai dari memproduksi hingga memasarkan miras oplosan racikannya itu,” ujar Tony.
Tony menjelaskan, sebelumnya, petugas sudah melakukan pemantauan aktivitas tersangka sejak lama. Saat itu petugas mendapat informasi dari warga jika ada pabrik miras oplosan di wilayah Condongcatur, Depok, Sleman. Saat diselidiki, polisi pun mendapati tersangka RD memproduksi hingga menjual oplosan secara online. Bahkan, pelaku melabeli produknya itu dengan merek Conti.
“Beberapa hari dipantau dan kita akhirnya melakukan penggrebekan. Setelah dilakukan penggeledahan ditemukan miras siap edar dan beberapa botol kosong siap diisi miras oplosan,” jelasnya.
Dikatakan, tersangka mengoplos miras dengan berbagai bahan sebelum dijual. Yakni jeruk lemon, alkohol dan gula pasir.

“Setelah jeruk difermentasi, kemudian dimasukan dalam botol, disegel, dan dikemas dengan plastik. Usaha ini sudah berjalan kurang lebih lima bulan,” beber Tony.
Dikatakan, tersangka menjual oplosan hasil racikannya secara online. Dalam sehari, pelaku ini bisa memproduksi sebanyak 30 botol yang dijual seharga Rp 160 ribu per botolnya. “Dari tangan pelaku, polisi juga mengamankan uang hasil penjualan senilai Rp 19.800.000,” katanya.
Tony menjelaskan peredaran miras oplosan ini sangat berbahaya karena tidak ada legalisasi dan sertifikasi dari dinas kesehatan dan BPOM. Terlebih Yogyakarta merupakan kota pelajar, dan dikhawatirkan akan dikonsumsi mahasiswa.
“Kita masih lakukan investigasi apakah ada pabrik oplosan di tempat lain. Terus investigasi juga untuk memastikan tidak lagi ada peredaran miras palsu,” ungkap Tony. (Shn)

Read previous post:
Pengembangan Produk Wisata Budaya Harus Didorong dengan Sasaran dan Pola Perjalanan Tepat

MALANG (HARIAN MERAPI)- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus tancap gas mengembangkan pariwisata di daerah. Yang terbaru, Kementerian di bawah komando Arief

Close