Air Susut Drastis, Petani Berbagi Suplai Air Irigasi

Warga melintas di Dasar Waduk Delingan yang mengering. (Foto: Abdul Alim)
Warga melintas di Dasar Waduk Delingan yang mengering. (Foto: Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Daerah Irigasi (DI) Jetu dan Sokolencong berbagi suplai air Waduk Tirtomarto Delingan, dengan petani di dasar waduk. Tingginya konsumsi air di musim kemarau mengakibatkan air bendungan susut drastis.

“Volume normal 4 juta meter kubik. Sekarang tinggal 500 ribu meter kubik. Faktor penyebab jumlah air berkurang drastis karena durasi musim hujan sebentar. Kemudian penguapan. Suplai aliran air dari Sungai Kumpul sangat sedikit. Adanya pertanian di dasar waduk juga berpengaruh, meski tidak signifikan. Susut drastis terlihat kentara pada Mei-Juni lalu,” kata Petugas Operasi Bendungan Tirtomarto Delingan, Ganjar Janati kepada wartawan, Rabu (3/7).

Tampungan air di Waduk Delingan diandalkan mengairi 1.850 hektare sawah di dua DI itu. Pintu air mengalirkannya berdebit 550 liter per detik. Selain itu, suplai airnya juga mendinginkan mesin penggiling gula di PG Tasikmadu. Hanya saja, kebutuhan pendingin mesin mulai digantikan sumber lain.

Di musim kemarau ini, petugas operasional mendapati elevasi Waduk Delingan di bawah ambang normal.

“Elevasi normal pada 232,40 meter. Hingga pagi ini 225,74 meter. Kita menjaga agar elevasinya tidak dibawah 222,90 meter,” lanjutnya.

Terkait keberadaan sawah dan ladang di dasar waduk, petani seakan tak mengindahkan larangan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) selaku pemilik waduk. Padahal, telah dipasang tanda larangan bercocok tanam. Namun, petani menanti tepi dasar waduk mengering, untuk memulai mengolah lahan. Mereka memompa air yang tersisa di cekungan dan mengalirkannya ke ladang. Aktivitas tersebut selain mengganggu suplai air ke DI juga menambah sedimentasi.

“Sudah dipasang papan larangan bercocok tanam. Masih nekat. Sebenarnya berisiko bertanam di dasar waduk karena sewaktu-waktu, tanamannya bisa terendam,” katanya.

Petani asal Kampung Bodeyan, Delingan, Karanganyar Kota, Agus Widodo mengaku empat kali mengalami gagal panen dalam 10 tahun terakhir bercocok tanam di dasar waduk.

“Jika waduk terisi air, tanaman habis terendam. Bercocok tanam di sini spekulatif,” katanya. (Lim)

Read previous post:
LIPUTAN HAJI 2019: Haji Aset Hubungan Diplomasi Indonesia

MADINAH (MERAPI) - Jauh sebelum Indonesia merdeka dan Kerajaan Arab Saudi meneguhkan eksistensinya, sudah banyak masyarakat Indonesia yang menunaikan ibadah

Close