MAKAM PETILASAN EYANG SEMAR DI GUNUNG TIDAR (4-HABIS) – Siapa yang Bersalah Akhirnya akan Ketahuan

Keberadaan makam petilasan Eyang Semar di Gunung Tidur, mampu memberi keuntungan ekonomis bagi warga sekitarnya. Pasalnya, petilasan tersebut selain banyak diziarahi kini juga berkembang menjadi objek wisata.

RITUAL pemasangan kain mori “ageman” pusaka dan pusara petilasan Eyang Ismaya Jati pada siang hari, Jumat Pahing, 4 Sura 1952 Be. Pemasangannya dilakukan oleh Nyi Mayangga Seta dibantu seorang peziarah dari Kediri. Panjang kain mori “ageman” keris pusaka 11 meter, dan kain mori untuk “ageman” pusara petilasan 7 meter.

Menurut juru kunci makam petilasan Eyang Ismaya Jati, Bu Sutidjah, nama-nama yang ada di puncak Gunung Tidar ini mempunyai makna yang tersamar. Sebutan ‘Eyang’, maknanya ‘elinga padha sembahyang’ (ingat untuk melakukan sholat), ‘Ismaya’ maknanya ‘aja padha semaya’ (jangan menunda). Kata ‘jati’ artinya ‘kabeh ana jati dhirimu’ (semua ada pada jati dirimu). Sedangkan kata ‘Semar’, maknanya ‘Sira Eling Marang Allah lan Rasul’ (kamu ingat pada Allah dan Rasul). Di pucuk tugu Puser Tanah Jawa yang berada di tengah lapangan di puncak Gunung Tidar ada tulisan aksara Jawa tiga buah “sa”. Ini maknanya, ‘sapa salah seleh’ (barang siapa yang bersalah akhirnya akan ketahuan). Juga bermakna ‘sapa sholat slamet’ (siapa yang menegakkan sholat akan selamat).

Puncak Gunung Tidar sendiri menjadi salah satu objek wisata spiritual atau objek wisata ziarah yang cukup terkenal di Magelang. Di sini, di samping ada makam petilasan Eyang Ismaya Jati, juga ada makam petilasan Syekh Subakir, makam Kyai Sepanjang dan makam petilasan Pangeran Purboyo yang berada di bawah pohon beringin besar.

Konon Syaikh Subakir adalah penakluk Gunung Tidar (meski tidak ada bukti meyakinkan akan cerita legenda ini) dengan mengalahkan para jin penunggu Gunung Tidar tersebut. Menurut legenda (hikayat) Gunung Tidar, Syaikh Subakir berasal dari negeri Turki yang datang ke Gunung Tidar bersama kawannya yang bernama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan agama Islam.

Kini, Gunung Tidar sedang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Magelang sebagai objek wisata rekreasi. Di sini sedang dibangun sebuah gardu pandang dengan biaya Rp. 1,8 milyar lebih. Dari gardu pandang ini, akan dapat dinikmati panorama alam yang indah di sekitar Magelang. (Amat Sukandar)