SENGKETA KEABSAHAN ATLET PORDA DIY – 88 Kasus Masuk, 14 Ditolak BAORI DIY

Ketua BAORI DIY, Achiel Suyanto (kiri) menyerahkan berkas yang diterima Ketua KONI DIY, Djoko Pekik Irianto. (HARIAN MERAPI-BENI WIDYASWORO)

YOGYA (HARIAN MERAPI) – Sengketa kasus keabsahan atlet Pekan Olahraga Daerah (Porda) XV-2019 DIY mendapat penyelesaian dari Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (BAORI) DIY. Dari 88 kasus gugatan yang masuk, terdapat 14 gugatan yang ditolak oleh BAORI DIY, sedangkan 2 kasus dinyatakan tidak masuk kewenangan BAORI DIY dalam menyelesaikannya.

Menurut Ketua Panitia Porda DIY 2019, Rumpis Agus Sudarko, putusan berkas dari sidang BAORI DIY sudah diterimanya pada Senin (1/7). “Ada 88 kasus yang masuk ke BAORI DIY dan 14 ditolak,” terangnya di Kantor KONI DIY, kemarin.

Meski demikian, Rumpis belum menyampaikan hasil akhir atlet yang dinyatakan lolos. Hal tersebut dikarenakan pihak Panitia Porda masih akan melakukan sinkronisasi atlet yang digugat sesuai dengan data atlet yang resmi didaftarkan.

“Jadi ada 14 gugatan yang ditolak BAORI. Namun dari jumlah itu kan kami masih belum mengetahui atlet yang bersangkutan. Kami juga perlu menelaah lagi lebih jauh, apakah 14 yang ditolak itu dinyatakan gugur atau malah gugatan yang memprotes atlet itu ditolak. Kan persepsinya berbeda,” beber Rumpis.

Lebih lanjut, Rumpis mengatakan bahwa pihaknya masih membutuhkan waktu untuk menelaah lebih jauh atas hasil putusan dari BAORI DIY tersebut. “Ya mungkin Selasa atau Rabu baru diketahui. Saat ini akan kami selesaikan masalah keabsahan atletnya sesuai dengan data yang tersedia,” lanjutnya.

Sedangkan Ketua Umum KONI DIY, Djoko Pekik Irianto menganggap bahwa proses verifikasi atlet untuk Porda DIY kali ini memang berbeda dengan sebelumnya. “Untuk yang Porda sekarang kami usahakan agar bisa memuaskan semua pihak. Meski ya ada pihak yang kurang puas juga. Namun pada akhirnya apapun keputusannya, harus bisa diterima secara bersama-sama,” katanya.

Ditambahkan Djoko Pekik, melalui verifikasi yang ketat pada penyelenggaraan saat ini, diharapkan menjadi pembelajaran untuk KONI kabupaten/kota di kesempatan ke depan. “Dari hasil verifikasi ini, kami harap atlet yang mewakili kabupaten/kota merupakan atlet hasil binaannya. Tak ada lagi indikasi atlet yang diambil dari luar, yang nantinya malah jadi preseden buruk bagi pembinaan olahraga di lingkungan DIY,” imbuhnya. (Oro)

Read previous post:
Bumi Cantik Tanpa Sampah Plastik

CARA mengisi liburan termasuk libur akhir pekan dapat dengan berbagai pilihan. Salah satu caranya dengan menggelar maupun mengikuti talkshow yang

Close