MAKAM PETILASAN EYANG SEMAR DI GUNUNG TIDAR (2) – Diyakini Sebagai Nenek Moyang Orang Jawa Purba

Tak sedikit ahli yang tertarik memperdalam sejarah dan folosifi para tokoh wayang, termasuk Semar. Salah satunya adalah Haryono Haryoguritno, yang secara gamblang membeber siapa itu soso bernama Semar.

AHLI Budaya Jawa dari Lembaga Javanologi Jakarta, Haryono Haryoguritno, pernah menulis makalah “Semar, siapa dan di mana dia?”. Ia membeberkan, dalam pandangan aliran kepercayaan di Jawa, ternyata ada yang meng-kiblat-kan ajaran-ajarannya kepada ketokohan Semar. Dalam pengembaraan spiritual mencari ‘tempat’ sangkan paraning dumadi, sebagian orang Jawa secara spiritual ‘sempat bertemu’ dengan tokoh Semar.

Hal ini karena pengaruh mitologi dunia pewayangan yang cukup berpengaruh dalam menciptakan kerangka pemikiran mistis orang Jawa. Sisa-sisa faham anismisme dan dinamisme juga sangat berpengaruh terhadap keyakinan ini. Sehingga muncul pemahaman, Semar adalah nenek moyang orang Jawa Purba yang roh-rohnya telah menjadi danyang yang mengawal kawasan Pulau Jawa dan seluruh Nusantara berikut penghuninya sampai akhir jaman nanti. Karena itu dia ada kemungkinan untuk bisa dan terus ‘hadir’ pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Kehadiran ‘nyata’ sosok Semar ini, salah satunya bisa ditemukan di puncak Gunung Tidar, Magelang. Di sana ada sebuah cungkup makam petilasan Eyang Semar atau Eyang Ismaya Jati. Cungkup berbentuk kerucut berwarna kuning dengan nama ‘Tumpeng Jejeg Sejati’. Tumpeng sendiri mempunyal makna ‘tumenga marang Pengeran kanthi jejeg amrih bisa dadi manungsa kang sejati’ (menghadap kepada Tuhan dengan lurus agar dapat menjadi manusia yang sejati).

Sebagai pengingat, agar orang Jawa tidak lupa pada kejawaannya, ada tulisan aksara Jawa ‘ha na ca ra ka….. sampai ma ga ba tha nga’ yang melingkar di bagian bawah ‘tumpeng’. Sedangkan tombak ‘trisula’ di ujung ‘tumpeng’ adalah bentuk huruf Arab yang terbaca ‘Allah’. Cungkup makam petilasan dipagari tembok empat persegi yang sisi-sisinya berukuran 9 meter. Ukuran ini bermakna ‘wali sanga’. Di dalam pagar yang membingkai makam petilasan ini ada sebuah pohon jati yang tumbuh subur. (Amat Sukandar)

Read previous post:
Kemarau Datang, Petani Diminta Asuransikan Sawahnya Sebelum Ditanami

JAKARTA (MERAPI)- Saat ini curah musim kemarau tiba, bahkan terjadi kekeringan di sejumlah daerah. Oleh karena itu, petani padi didorong

Close