BUPATI KULONPROGO DUKUNG SIKAP SULTAN-Boleh Bangun Tol Asal Tak Rugikan Warga

WATES (MERAPI)-Pemkab Kulonprogo menyatakan keterbukaan untuk dilintasi jalan tol. Meski demikian, ada dua syarat yang diberlakukan, yakni tidak melewati bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kecamatan Temon serta tidak merugikan warga.
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo menyampaikan, pernyataan tersebut merupakan dukungan pihaknya terhadap prinsip Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Nantinya, jalan tol yang melintasi Kulonprogo harus berjarak setidaknya 3km dari YIA, serta dibangun berdekatan dengan jalur kereta api di wilayah ini.
“Sultan tidak keberatan (ada tol) asal tidak melewati bandara dan tidak merugikan warga. Kuncinya dua ini. Kami mendukung prinsip Sultan soal itu,” kata Bupati Hasto kepada wartawan, Jumat (28/6).

Bupati Hasto menambahkan, dirinya memiliki sejumlah pertimbangan sehingga menyetujui dibangunnya tol di Kulonprogo. Dinilainya, ada keperluan masyarakat terkait koneksitas antarwilayah seperti Kulonprogo dengan Yogyakarta, Semarang, juga Solo sehingga keberadan tol bisa menjawab kebutuhan tersebut. Bupati Hasto juga meyakini dua kepentingan yakni kebutuhan koneksitas yang mudah dilalui serta tidak merugikan warga bisa dicapai sekaligus.
Saat ini, lanjut Bupati Hasto, sudah ada gambar mengenai jalan tol di wilayah Kulonprogo, termasuk lokasinya yang diatur berdekatan dengan jalur kereta api. Dalam konsepnya, sebanyak mungkin akan dibuat flyover dan underpass di sepanjang jalan tol itu.

Lokasi yang berdekatan dengan jalur kereta api, menurut Bupati Hasto dipilih karena berjarak sekitar 3 km utara YIA. Selain itu, di sekitar rel juga tidak banyak terdapat pemukiman warga sehingga tidak perlu ada tindakan penggusuran.
“Dibangunnya agak ke utara dari bandara, jadi pengguna tol bisa berhenti di Kulonprogo. Selain itu, saya juga minta agar rest area harus dikuasai rakyat Kulonprogo, bukan dikuasai tol,” tegasnya.
Untuk mengawali pembangunan tol itu, Pemkab akan segera membuat perencanaan detail atau Detail Engineering Design (DED) dan konsepnya. Hal ini lebih sederhana karena pembangunan tol dikerjakan oleh BUMN sehingga dapat lebih cepat daripada jalur Bedah Menoreh. Bupati Hasto bahkan meyakini, pada 2019 ini DED tol bisa selesai karena akan dibantu pihak swasta.

Rencana pembangunan tol di Kulonprogo juga didukung DPRD setempat. Ketua DPRD Kulonprogo, Akhid Nuryati meminta agar keberadaan tol jangan hanya dikonotasikan untuk dilintasi saja, namun juga bisa memicu penggunanya untuk turun atau berhenti di Kulonprogo. Dijelaskannya, selama ini pengguna tol dari Brebes yang hendak ke Yogyakarta atau Kulonprogo masih turun di Solo karena belum ada tol yang melintasi dua wilayah tersebut.
“Kalau sudah ada tol bisa kan langsung ke sini, jadi memicu orang untuk turun menginap di Kulonprogo. Bayangannya jangan begitu naik lalu pergi, tapi bisa juga tinggal di Kulonprogo,” ucapnya.
Sebagai upaya persiapan, Akhid mewanti-wanti agar Pemkab menyediakan sarana pendukung untuk wisatawan yang akan tinggal di Kulonprogo. Salah satunya, menggalakkan pariwisata dengan menyediakan homestay.
“Investasi juga harus dibuka seluas-luasnya, agar ada hotel dan sebagainya,” tegas Akhid. (Unt)

Read previous post:
Industri Pariwisata Kairo Jelajahi Jakarta, Bandung dan Bali Lewat Famtrip

JAKARTA (MERAPI) - Kementerian Pariwisata bekerjasama dengan KBRI Kairo melakukan kegiatan perjalanan wisata pengenalan atau familiarization trip (famtrip), 22-30 Juni

Close