PRIHATIN PASCA PEMILU 2019: UGM Sampaikan Pesan Persatuan dan Perdamaian

MERAPI-AWAN TURSENO Civitas akademika UGM saat menyampaikan pesan persatuan dan perdamaian.
MERAPI-AWAN TURSENO
Civitas akademika UGM saat menyampaikan pesan persatuan dan perdamaian.

DEPOK (MERAPI) – Civitas akademika Universitas Gajah Mada (UGM) merasa prihatin atas tragedi yang terjadi pasca penetapan hasil Pemilu 2019 oleh KPU RI. Kondisi ini tidak terlepas dari ketegangan antar elemen masyarakat yang telah terbangun, bahkan sejak periode sebelum kampanye pemilu.

Atas peristiwa tersebut, mereka menyerukan pesan persatuan dan perdamaian yang dipimpin langsung rektor UGM, Panut Mulyono di Balairung kampus setempat, Jumat (24/5).

Turut hadir dalam konferensi pers Ketua Dewan Guru Besar UGM Koentjoro, Dekan Fakultas Hukum UGM Sigit Riyanto, Dosen Fisipol UGM Mohammad Mohtar Masoed, dan sejumlah dosen lainnya.

“Menyikapi kondisi tersebut, kami para dosen di UGM, merasa prihatin atas eskalasi kekerasan yang terjadi. Pesta demokrasi, kegiatan rutin lima tahun sekali telah usai kita laksanakan. Perbedaan preferensi politik adalah hal yang alami, mengingat perbedaan selalu merupakan rahmat,” kata Panut.

Apapun hasil aspirasi politik dalam pemilu, seyogianya tidak mengubah komitmen bersama sebagai bagian dari bangsa Indonesia untuk selalu mempertahankan dan memperkuat kesatuan dan persatuan Indonesia.

Perlu dipahami, lanjutnya, terlalu lama bangsa ini terjebak dalam ketegangan yang tidak perlu hanya karena aspirasi dan preferensi politik yang berbeda. Terlalu besar sumber daya yang telah dicurahkan akibat perbedaan aspirasi tersebut.

Di saat yang bersamaan, negara-negara tetangga tetap fokus membangun. Jika ini terus terjadi berlarut-larut, hanya ada satu kepastian, yaitu bangsa ini akan tertinggal dari negara-negara tetangga.

“Untuk itu, kami para dosen UGM menyerukan kepada berbagai pihak baik para elite politik dan elemen masyarakat, untuk kembali mengedepankan amanah Proklamasi 17 Agustus 1945. Marilah kembali ke nilai-nilai kejujuran, integritas dan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” tegasnya.

Panut juga berharap agar bangsa Indonesia bersama-sama menanggalkan sebutan yang kurang patut kepada pihak yang memiliki aspirasi dan preferensi politik yang berbeda. Sekaligus meninggalkan penyebaran berita bohong dan saling mendiskreditkan antar anak bangsa. Seluruh elemen masyarakat agar kembali bersatu, menjunjung persatuan dan kesatuan serta menjunjung integritas untuk bersama-sama membangun Indonesia.

Selain itu menyerukan kepada semua pihak agar kembali memfokuskan diri pada upaya meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Hal ini hanya dimungkinkan jika semua elemen bangsa memprioritaskan keamanan, persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Dekan Fakultas Hukum UGM, Sigit Riyanto menambahkan, proses Pemilu 2019 telah selesai. KPU juga telah mengumumkan hasil rekapitulasi surat suara beberapa waktu lalu.

“Pada hari-hari terakhir ini kita menyaksikan ada proses yang menimbulkan keprihatinan kita bersama. Karena ada upaya-upaya yang mengganggu ketertiban,” ujarnya.

Sigit mengingatkan, apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan pada Pemilu 2019 lalu agar ada upaya-upaya hukum yang bisa ditempuh. “Tinggalkan cara-cara yang anarki, sehingga kita bisa menjaga ketertiban,” pintanya. (Awn)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Pagar Pembatas Jalan Langganan Macet Dipasang

UMBULHARJO (MERAPI) - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta melakukan rekayasa lalu lintas untuk mengatasi kepadatan menjelang Lebaran. Rekayasa dilakukan dengan

Close