WARGA DIIMBAU TAK PANIK ISU ANTRAKS-Pemkot Yogya Awasi Daging di Pasar

MERAPI-TRI DARMIYATI Permintaan daging sapi di depo daging sapi di Jalan Jagalan Yogya tidak terpengaruh dengan ternak sapi yang mati karena dugaan antraks di Gunungkidul.
MERAPI-TRI DARMIYATI Permintaan daging sapi di depo daging sapi di Jalan Jagalan Yogya tidak terpengaruh dengan ternak sapi yang mati karena dugaan antraks di Gunungkidul.

UMBULHARJO (MERAPI)– Pengawasan peredaran daging di pasaran dan ternak sapi di Kota Yogyakarta diperketat untuk mengantisipasi paparan penyakit antraks. Kebijakan itu dilakukan menyusul adanya 5 ternak sapi di Gunungkidul yang mati karena terduga terkena antraks.
“Kami akan memantau dan mengambil sampel daging sapi di beberapa pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Karena penularan antraks cepat maka kami lakukan antisipasi,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto kepada wartawan, Kamis (23/5).
Rencananya pengambilan sampel daging sapi di pasar-pasar sekaligus pengawasan daging rutin akan dilakukan pada Jumat (24/5) dini hari. Setidaknya ada beberapa pasar tradasional yang akan diambil sampel daging sapi yakni Pasar Beringharjo, Kranggan, Sentul dan Kotagede. Dalam pengawasan dan pengambilan sampel daging sapi itu melibatkan tim gabungan Dinas Pertanian dan Pangan serta Satpol PP Kota Yogyakarta.

“Kami akan terjunkan tim lebih banyak untuk pengawasan sekaligus mengambil sampel daging sapi agar diujikan di laboratorium. Karena secara kasat mata tidak bisa diketahui fisik daging sapi yang terpapar antraks atau tidak,” paparnya.
Dia menyebut kebutuhan daging sapi di Kota Yogyakarta sekitar 6 ton yang dipenuhi dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan 2 ton. Sedangkan sisanya daging sapi dipenuhi dari Bantul dan Boyolali. Meskipun kiriman dalam bentuk daging sapi dari Gunungkidul ke Yogya selama ini belum ada, tapi tetap menjadi kewaspadaan.
“Selama ini kiriman dalam bentuk daging sapi dari Gunungkidul belum ada karena belum memiliki tempat penyembelihan. Tapi bisa saja sapi dari Gunungkidul disembelih di Bantul, sehingga itu yang harus kami cermati,” tutur Sugeng.

Sedangkan para pejagal sapi di Kota Yogyakarta, lanjutnya, selama ini mengandalkan sapi dari Gamping Sleman dan jarang mengambil sapi dari Gunungkidul. Langkah lain yang dilakukan untuk mencegah antraks, kata Sugeng, adalah dengan mengambil sampel darah sapi yang masuk ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan. Dia menyatakan sebagian besar sapi yang masuk di RPH Giwangan dari luar Yogya.
Selain itu dari sisi hewan ternak yang masih hidup akan diambil sampel tanah pada kandang ternak di kelompok-kelompok peternak sapi di Kotagede dan Tegalrejo. Dia menyebut ternak yang terpapar antraks bisa menyebabkan kematian ternak. Antraks yang merupakan penyakit zoonosis juga bisa menular ke manusia.
“Sampel daging, darah dan sampel tanah dari kandang sapi akan diperiksa Balai Besar Veteriner, apakah kena antraks atau tidak. Untuk uji laboratorioum sampel-sampel itu butuh waktu tiga sampai tujuh hari. Masyarakat tidak perlu panik,” ucapnya.

Sementara itu salah seorang penyedia daging sapi di Jalan Jagalan, Pakualaman, Sri mengaku permintaan daging sapi di kios daging miliknya tidak mengalami penurunan atau kenaikkan. Termasuk dari segi harga masih stabil yaitu Rp 130 ribu/kg daging sapi kualitas nomor satu.
“Masih sama permintaan daging sapinya. Kami mendapatkan sapi dari lokalan DIY. Selama ini aman karena daging sapi diperiksa dokter. Sehari stok daging satu ekor sapi,” imbuh Sri.(Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Dua Tahun Longsor, Jalan Kedungjati-Jetis Urung Diperbaiki

IMOGIRI (MERAPI) - Warga Dusun Jetis, Selipamioro, Imogiri jengah menunggu perbaikan jalan utama yang urung dilakukan. Padahal longsor yang memakan

Close