TDA PDAM Naik per 1 Juni 2019

Dirut PUDAM Tirta Lawu memaparkan alasan kenaikan TDA per 1 Juni 2019. (Foto:Abdul Alim)
Dirut PUDAM Tirta Lawu memaparkan alasan kenaikan TDA per 1 Juni 2019. (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Tirta Lawu menaikkan tarif ke pelanggannya per 1 Juni 2019. Penerapan tarif ini berlainan untuk rumah tangga kalangan rendah, menengah dan mewah.

Dirut PDAM Tirta Lawu, Prihanto mengatakan tarif dasar air (TDA) sebelum kenaikan adalah Rp 1.300 per meter kubik. Dalam penyesuaian tarif, pelanggan rumah tangga skala rendah naik Rp 200 dari TDA. Sedangkan skala menengah naik Rp 300 dan skala mewah naik Rp 450.

“Meski naik, tarifnya masih paling murah se Jawa Tengah. Selama 10 tahun terakhir, tarifnya belum pernah naik. Di Karanganyar sangat terjangkau. Tarif baru ini berlangsung lima tahun sejak ditetapkan dan akan dievaluasi kemudian,” kata Prihanto kepada wartawan, Jumat (26/4).

Kenaikan tarif untuk menyetabilkan keuangan perusahaan berpelat merah tersebut. PDAM Tirta Lawu mengganti pipa penyalur ke 62 ribu pelanggan dari ukuran semula ¾ dim ke 2 dim. Selain itu, menyesuaikan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), inflasi dan meningkatnya harga kebutuhan pokok. Ia memastikan kebijakan tersebut tak menyalahi aturan.

“Perhitungan dan kajian tarif berdasarkan Permendagri No 71 tahun 2016 yang mempertimbangkan prinsip dasar keterjangkauan dan keadilan, mutu pelayanan, pemulihan biaya, efisiensi pemakaian air dan perlindungan air baku serta transparansi dan akuntabilitas,” katanya.

Kenaikan tarif hanya pada tagihan bulanan, namun bukan tarif pemasangan baru. Ia menjanjikan pelayanan lebih baik bagi pelanggan dengan mengurangi kebocoran dan menambah reservoir di lereng Lawu. Sejauh ini terdapat 16 sumber mata air di Ngargoyoso, Matesih, Jenawi, Jumapolo, Jatipuro dan Jumapolo. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menambah delapan mata air dari Tawangmangu.

“Pekan depan menandatangani perjanjian kerjasama dengan Perhutani untuk pemanfaatan delapan mata air di Tawangmangu. Saat ini, total debit air 70 liter per detik. Itu sudah dikurangi 23 persen kebocoran,” katanya.

Ia menyebut kebocoran disebabkan perangkat jaringan termakan usia, meteran tidak sesuai fakta dan praktik pencurian air.

“Pencurian air seringkali didapati di perkotaan. Pelakunya diputus aliran dan didenda membayar enam bulan tagihan,” katanya.

Mengenai setoran ke kas daerah, ia mengatakan mengalami kenaikan secara signifikan. Pada 2018 menyetor ke PAD Rp 2,2 miliar. Hal itu tak lepas dari penambahan pelanggan.

“Tahun ini ditarget tambah 5 ribu pelanggan. Baru tercapai sekitar 2 ribu pelanggan,” katanya. (Lim)

Read previous post:
BPBD GELAR PENYULUHAN KEBENCANAAN DI UNRIYO: Penanganan Bencana Tugas Semua Unsur Masyarakat

DEPOK (MERAPI)- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, menggelar penyuluhan tentang kebencanaan bagi mahasiswa Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), Jumat

Close