Nilai-nilai Filosofi Masa Lalu Bisa Dikembangkan

Pardi Suratno. (MERAPI-TEGUH)

MESKI perkembangan zaman terus berlangsung hingga saat ini, namun leluhur bangsa Indonesia telah menanamkan sedemikian kokohnya nilai-nilai terkait dengan budaya bagi bangsa ini. Terlebih bagi masyarakat Jawa, nilai-nilai terkait dengan filosofi masih memiliki relevansi dalam kehidupan saat ini dan bisa dikembangkan.

Hal ini diungkap Kepala Balai Bahasa Yogyakarta, Pardi Suratno ketika ditemui Merapi di ruang kerjanya Senin (15/4). Dijelaskan pula, filosofi yang tertuang dalam untaian kata-kata bijak bukan hanya sekadar susunan kata indah yang bukan tidak punya makna bagi masyarakat penuturnya. Ada kekuatan semacam ruh atau marwah dalam untaian kata itu yang mampu memberikan spirit bagi seseorang atau kelompok untuk mengamalkannya sebagai bagian dari karakter, sikap hidup serta budaya masyarakat yang bersangkutan.

“Nilai-nilai filosofi seharusnya mampu tercermin dalam sikap hidup keseharian masyarakat serta dapat menjadi karakter masyarakat itu,” tutur Pardi yang sedang mempersiapkan desertasinya mengenai Centhini.

Karya sastra peninggalan para leluhur bangsa ini menurut dia, banyak yang memiliki nilai-nilai universal. Bahkan kekuatan alam pikir manusia Jawa tempo dulu begitu dalam pandangan dia, mampu menembus dimensi waktu. Sehingga meski zaman sudah moderen seperti saat ini namun nilai-nilai yang menjadi buah pikir para pujangga masa lalu, masih relevan dan sangat mungkin untuk terus dikembangkan dan beri tafsir ulang agar dikenal oleh generasi muda saat ini.

“Ini penting mengenalkan kembali karya-karya pujangga masa lalu dalam kehidupan anak-anak muda saat ini. Hanya saja tafsirnya dapat dilakukan dengan nuansa kekinian tanpa harus kehilangan ruh dari karya sastra itu sendiri agar tidak melenceng,” tandasnya.

Ada sejumlah karya yang megadopsi Serat Centhini, namun justru sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang demikian agung dalam serat itu. Kalau karya semacam itu lantas dibaca oleh anak muda saat ini tanpa terlebih dahulu mengenal teks Serat Centhini yang asli, maka kasihan mereka akan tersesat pandangannya terhadap karya Centhini yang memiliki cakupan pengetahuan tentang kehidupan manusia yang lengkap ini.

“Ada yang hanya sepotong-sepotong memberi tafsir ulang dalam bentuk novel yang kemudian digarap secara populer, namun hanya memandang sebagian kecil dari kisah itu namun justru ditonjolkan. Padahal faktanya dalam karya Centhini yang asli hal semacam itu tidak secara detail dan khusus dibahas,” ucap Pardi. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kesadaran Rendah, Peserta Pemilu Enggan Nyopot APK

UMBULHARJO (MERAPI) - Kesadaran peserta pemilu untuk menurunkan alat peraga kampanye (APK) secara mandiri masih rendah. Sudah pasang tapi enggan

Close