Kurangi Kemacetan Malioboro, Angkutan Online Diminta Bikin Pangkalan

Suasana Jalan Malioboro Yogyakarta.

UMBULHARJO (MERAPI) – Pemerintah Kota Yogyakarta meminta operator angkutan online mobil dan motor menyediakan tempat mangkal atau shelter untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang. Terutama pada ruas jalan ramai seperti Jalan Malioboro dan kawasan Titik Nol Kilometer.

“Kemarin sudah ada kesepahaman dengan operator angkutan online motor Gojek dan mobil Gocar untuk mempunyai titik-titik menaikkan dan menurunkan penumpang, sehingga tidak menambah padat lalu lintas,” kata Wakil Walikota Heroe Poerwadi, Minggu (14/4).

Heroe menjelaskan, titik-titik untuk menaikkan atau menurunkan penumpang angkutan online diperlukan pada lokasi-lokasi keramaian seperti Jalan Malioboro, kawasan Titik Nol Kilometer dan pusat-pusat perbelanjaan dan keramaian. Menurutnya jika tidak ada titik khusus untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, dikhawatirkan keberadaan angkutan online yang menjemput penumpang menimbulkan kepadatan lalu lintas.

“Di sepanjang Jalan Malioboro pengemudi angkutan online khususnya dengan mobil berjalan perlahan-lahan sampai menemukan lokasi penjemputan sehingga jalur lalu lintas kurang lancar,” tambahnya.

Apalagi di sepanjang Jalan Malioboro sudah ada rambu-rambu larangan kendaraan berhenti di tepi jalan untuk kelancaran lalu lintas. Di samping itu dari pantauan selama ini di Jalan Pasar Kembang sisi utara banyak ojek online yang mangkal di tepi jalan. Padahal sudah ada rambu-rambu larangan berhenti maupun parkir di tepi jalan selatan Stasiun Tugu Yogyakarta.

Dia mengatakan, operator Gojek melaporkan sudah ada 13 shelter untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di Yogyakarta dan sekitarnya. Pihaknya berharap shelter itu ditambah, terutama di jalan-jalan kawasan yang ramai lalu lintasnya. Namun shelter yang dibuat tidak di tepi atau badan jalan. Dia menyebut kini jumlah angkutan online yang beroperasional di Yogyakarta mencapai sekitar 2.000 untuk basis mobil dan sekitar 12.000 untuk basis sepeda motor.

“Jumahnya memang sangat banyak sehingga kami harap titik shelter diperbanyak, sehinga tidak ada angkutan online yang nonkrong di sepanjang badan jalan. Harapannya, dengan adanya titik-titik penjemputan bisa mengurangi potensi kemacetan lalu lintas,” terang Heroe.

Namun diakuinya dengan konsep shelter perlu dukungan dari masyarakat agar mematuhi aturan untuk naik atau turun di titik yang sudah ditentukan. Mengingat selama ini kecenderungan konsumen angkutan online ingin turun atau dijemput di titik terdekat.

Secara terpisah Kepala Bidang Angkutan Jalan Pengendalian Operasional dan Keselamatan Lalu Lintas Perhubungan Kota Yogyakarta Golkari Made Yulianto mengakui, titik-titik khusus penjemputan penumpang angkutan online diperlukan. Tapi harus dipastikan mematuhi operasional angkutan online. Terutama dari segi kuota angkutan karena dinilai keberadaan shelter angkutan online tak berdampak mengurangi kepadatan lalu lintas jika jumlah angkutan online melebihi kuota.

“Titik penjemputan naik atau turun perlu agar tidak parkir sembarangan dan menghambat lalu lintas. Namun perusahaan operator angkutan online harus mentaati aturan seperti kuota yang diizinkan dalam satu wilayah. Selain itu aturan identitas atau atribut taksi online agar mudah dikenali karena tidak ada bedanya dengan kendaraan pribadi,” tandas Golkari. (Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kabupaten Badung Asuransikan Ratusan Ekor Sapi Betina

BADUNG (MERAPI) - Guna menjaga populasi sapi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung, Bali mengasuransikan ratusan ekor sapi betina. Program Asuransi Usaha

Close