SIDANG PEMALSUAN ASAL USUL PERKAWINAN- Penasihat Hukum: Terdakwa Punya Bukti Otentik


Tim penasihat hukum para terdakwa saat membacakan pledoi di muka persidangan PN Yogya. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Tim penasihat hukum para terdakwa saat membacakan pledoi di muka persidangan PN Yogya. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

YOGYA (MERAPI) – Tim penasihat hukum Arlen Purba SH tak sependapat dengan tuntutan jaksa yang menyatakan BRAy Koeswarsijah alias Suwarsi dkk terbukti bersalah melakukan pemalsuan asal usul perkawinan dengan tuntutan mulai 1 tahun sampai 3 tahun penjara.

Untuk itu penasihat hukum meminta agar terdakwa dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Pasalnya pihak terdakwa memiliki bukti-bukti otentik.
“Kami penasihat hukum terdakwa membuktikan sebaliknya, bahwa terdakwa 1 sampai 8 justru yang dikriminalisasi oleh pihak Sis Cakraningrat. Karena terbukti di dalam persidangan bukti-bukti yang dimiliki oleh Sis Cakraningrat hanya berupa fotokopi, tidak dapat menunjukkan aslinya,” ujar Arlen Purba SH kepada wartawan usai sidang pembacaan pledoi atau pembelaan di muka persidangan Pengadilan Negeri (PN) Yogya, Senin (8/4).

Sementara bukti yang dimiliki para terdakwa adalah akta otentik yang sah. Bahkan hingga saat ini belum ada pihak yang menggugat pembatalan bukti milik para terdakwa melalui mekanisme hukum yang berlaku di Indonesia.

Untuk itu penasihat hukum menilai pengadilan akan menjadi batu ujian bagaimana hukum dan keadilan ditegakkan. Apakah akta otentik bisa dikalahkan oleh surat fotokopi.

Bahkan rerdakwa 1 yakni Suwarsi adalah anak dari Pembayun Waluyo istri dari RM Wugu salah satu pengawal Panglima Soedirman dalam perang gerilya menjaga eksistensi RI. Karena pada waktu itu Presiden Soekarno ditawan oleh Belanda.

Terdakwa 1 beserta ibunya ikut serta dalam perang gerilya tersebut. “Alangkah durhakanya kita terhadap terdakwa 1 dengan menempatkannya di kursi panas terdakwa,” jelas Arlen. (C-5)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
Tentara Pun Dijambret

PENJAHAT sekarang tidak pilih-pilih sasaran. Begitu ada kesempatan, langsung beraksi, tak peduli siapa yang menjadi korban. Itu pula yang terjadi

Close