Tanaman Padi Roboh, Petani Rugi

Angin kencang disertai hujan deras mengakibatkan tanaman padi roboh. (Foto:Abdul Alim)
Angin kencang disertai hujan deras mengakibatkan tanaman padi roboh. (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) -Areal tanaman padi di Karanganyar mengalami kerusakan akibat diterpa angin kencang dan hujan deras. Petani terdampak kerusakan, terpaksa panen dini untuk mengurangi kerugian. “Kalau tanaman yang roboh usia muda, bisa ditegakkan lagi. Lha ini hitungan 1 pekan lagi panen. Meski belum waktunya, dipanen dini. Daripada risiko roboh. Bulir padi yang terendam air pasti rusak. Harganya jatuh. Untuk mengeringkannya juga butuh waktu dan biaya,” kata petani Desa Suruhkalang, Jaten, Supriyadi, Minggu (24/3).

Dalam sepekan terakhir, hujan deras disertai angin kencang terjadi hampir tiap hari. Akibat panen dini, petani tak bisa memaksimalkan penjualan gabah. Harga gabah anjlog menjadi Rp 4.400 per kilogram. Padahal harganya masih di kisaran Rp 4.800-5.000 perkilogram pada dua pekan sebelumnya. Untuk tanaman muda, petani berusaha menyelamatkannya dengan membangunkan kembali. Caranya, tanaman padi diikat menggunakan tali rafia. Supriyadi mengatakan tanaman padi roboh diperkirakan 1 hektare yang tersebar di hamparan.

Sementara itu petani asal Jantirejo, Karanganyar Kota, Wagiman mengatakan tanaman padi yang roboh di sawahnya mencapai 20 persen. Sedangkan ia memiliki 2 ribu hektare sawah. Penanganan segera harus dilakukan karena kondisi itu mempercepat pembusukan bulir. “Dua hari terendam langsung busuk. Jadi, harus ditegakkan sebelum terlalu lama terendam.”

Untuk memetakan sawah rusak berikut mendata kerugian, Dinas Pertanian menerjunkan tim di 17 kecamatan mulai Senin (20/6). Petani dipersilakan mengklaim bantuan bencana alam dari dinas terkait maupun BPBD usai pengajuannya lolos verifikasi.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Karanganyar, Supramnaryo tak menampik petani mengalami kerugian akibat cuaca buruk. Tak hanya di Suruhkalang, namun di hampir seluruh hamparan. Mereka diperailakan mengajukan klaim asuransi usaha tani. Namun untuk ategori puso dihitung dari porsi kerusakan minimal 75 persen. Dalam kondisi tersebut, bantuan ke petani dapat dicairkan.

“Mereka sudah disarankan mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Seharusnya faktor kerusakan akibat alam terkaver asuransi,” katanya. (Lim)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MPM PP Muhammadiyah Bantu Padasan untuk ‘Mardiko’, Biasakan Mencuci Tangan Sebelum Makan

PIYUNGAN (MERAPI) - Meski hidup bergelut dengan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) Piyungan, Bantul, namun para pemulung yang

Close