RUMAH MBAH LINDA RATA DENGAN TANAH-Lolos dari Longsor, Hanya Bisa Selamatkan KTP

MERAPI-RIZA MARZUKI/Mbah Linda mengais genteng dan barang lain yang masih utuh di antara reruntuhan rumahnya.
MERAPI-RIZA MARZUKI/Mbah Linda mengais genteng dan barang lain yang masih utuh di antara reruntuhan rumahnya.

DLINGO (MERAPI)- Mbah Linda nampak meratapi rumahnya yang ambruk di RT 6, Dusun Banjarharjo 2, Muntuk, Dlingo, Bantul, Jumat (22/3). Rumah nenek yang hidup sebatang kara ini rata dengan tanah akibat banjir-longsor yang menerjang Bantul Minggu (17/3) lalu. Mbah Linda lolos dari bencana longsor karena sudah meninggalkan rumah sebelum material mengubur rumahnya.
Hingga kemarin pagi, belum ada yang berubah. Reruntuhan rumah Mbah Linda masih sama dengan sesaat setelah longsor terjadi. Dia hanya mengais seng dan genteng yang masih utuh. Sementara, belum ada bantuan datang. Padahal, semua barang miliknya tertimbun. Kini Mbah Linda hanya memiliki pakaian yang dia kenakan saja. “Saya itu hanya sempat membawa surat-surat (penting), KTP, KK, karena tinggal ambil di lemari,” sebutnya.

Nenek yang setiap hari bertani dan bekerja menganyam bambu itu menceritakan, debit air sungai kecil yang berada di depan rumahnya mulai meluap Minggu sore lalu. Dia pun berinisiatif untuk mengambil cangkul dan membendung aliran air yang menuju rumahnya. Namun upaya itu tidak berhasil lantaran debit semakin besar. Hingga akhirnya pada Minggu petang, salah satu anak Mbah Linda datang dan memaksanya untuk meninggalkan rumah. Melihat situasi yang semakin mencekam, Mbah Linda hanya mengambil dokumen penting dan mengungsi di rumah sang anak yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya.
Sekitar pukul 19.00, Mbah Linda sampai di rumah putranya. Namun hingga larut malam dia belum bisa tidur lantaran was-was jika longsor menerjang rumahnya. Kekhawatiran itu pun terjadi.

Tak lama berselang, suara seperti batu yang jatuh dan mengenai tembok terdengar jelas. Kemudian menyusul gemuruh disertai suara pecahan kaca. Barulah keesokan harinya, Mbah Linda kaget bukan kepalang. Rumah berukuran 5X7 meter miliknya sudah tidak terlihat lagi, hanya menyisakan tembok kamar mandi. Sebuah longsoran besar pada punggung Bukit Lampeng dengan panjang lebih dari 300 meter menimbun rumahnya. “Semua barang, uang dan perabot tertimbun tanah,” ujarnya.
Salah satu warga Banjarharjo, Giyanto menjelaskan pada titik yang sama juga sempat terjadi longsor akibat badai cempaka tahun 2017 silam. Namun longsoran itu menju ke arah barat daya, sehingga rumah Mbah Linda terhindar dari material longsor. Pasca badai cempaka, pada retakan tanah sudah dipasang early warning sistem (EWS). Warga pun tidak menyangka longsor kali ini justru terjadi pada titik yang sebelumnya tidak diprediksi akan longsor. Longsoran kali ini pun lebih lebar, hampir 50 meter.

Warga belum dapat melakukan pembersihan karena kondisi tanah masih labil. Dia khawatir akan terjadi longsor susulan. “Yang penting Mbah Linda aman dulu, ini tanahnya masih bisa bergerak,” lanjutnya.
Mbah Linda menurut Giyanto sudah tinggal di lokasi tersebut sejak puluhan tahun yang lalu. Dia dan keluarga membangun rumah dari tanah warisan orangtua. Setelah berpisah dengan suami, Mbah Linda tinggal seorang diri. Melihat kondisi ini, Mbah Linda mengaku tidak masalah jika harus direlokasi. Pasalnya rumahnya pun dipastikan tidak bisa dibangun kembali di lokasi yang sama. “Kemarin hanya ada dari PLN yang mencabut kabel listrik. Semoga pemerintah bisa cepat membantu,” harapnya. (C1)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Bambang Trihatmodjo: Pupuk Bregadium Bukti Kiprah Berkarya untuk Pertanian

BANYUMAS (MERAPI) – Kader utama Partai Berkarya Bambang Trihatmodjo menilai sector pertanian Indonesia berjalan di tempat, di tengah maju dan

Close