Ciu Bekonang, Sudah Dilarang Perajin Tetap Produksi

Perajin saat melakukan proses penyulingan pembuatan alkohol atau ethanol. (wahyu imam ibadi)
Perajin saat melakukan proses penyulingan pembuatan alkohol atau ethanol. (Foto: Wahyu Imam Ibadi)

SUKOHARJO (MERAPI) Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo sudah lama dikenal sebagai sentra perajin alkohol, utamanya ciu. Ciu dari Bekonang itu pula yang dikonsumsi enam warga di Kota Yogya hingga akhirnya tewas pada akhir pekan lalu.
Meski seharusnya tidak diproduksi, namun ciu masih dibuat sampai sekarang bahkan penyebaran penjualannya meluas di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Yogya. Ironisnya, perajin ciu di Bekonang jumlahnya terus bertambah. Desa Bekonang sejatinya sentra pembuat alkohol atau ethanol yang legal. Nah, selama proses pembuatan itu, sebelum jadi etanol, ada masa disebut ciu. Namun justru ciulah yang kemudian dijual sebagian perajin.

Perajin lebih memilih memproduksi ciu karena prosesnya yang cepat dan segera mendapatkan keuntungan banyak. Hal itu tidak sebanding apabila membuat alkohol atau ethanol karena butuh waktu lama.
Ketua Paguyuban Perajin Alkohol Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban Sabariyono kepada Merapi mengatakan, tidak bisa memungkiri Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban menjadi sorotan karena produksi ciu. Para perajin memproduksi ciu berasal dari tetes tebu yang disuling. Bahan baku tersebut seharusnya dipakai untuk membuat alkohol atau ethanol namun justru dalam proses pembuatanya hanya sampai ciu saja.
“Tetes tebu itu diproses melalui sejumlah tahapan dengan hasil akhir seharusnya dalam bentuk alkohol atau ethanol. Tapi baru sampai proses ciu, perajin sudah menghentikan prosesnya dan kemudian menjualnya. Ini yang tidak tepat karena ciu memang tidak boleh diproduksi dan sesuai aturan harusnya membuat alkohol atau ethanol untuk kebutuhan industri medis kesehatan dan lainnya,” ujarnya.

Untuk memproduksi perajin membutuhkan banyak bahan baku berupa tetes tebu. Setelah mendapatkan maka perajin tinggal memproduksi dan yang pertama dihasilkan dalam bentuk ciu. Sesuai aturan ciu tersebut seharusnya diolah lagi melalui tahap penyulingan dan hasil berikutnya berupa ethanol. Selanjutnya penyulingan berikutnya menghasilkan alkohol.
“Produksi ciu yang dulu hanya dijual di wilayah Sukoharjo atau Solo Raya saja namun sekarang sampai ke luar daerah. Bahkan sebelum dijual sudah banyak yang ditangkap oleh polisi,” lanjutnya.
Pemkab Sukoharjo sejak lama juga sudah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada para perajin di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban agar sesuai aturan memproduksi alkohol atau ethanol. Tujuannya agar perajin bisa menghasilkan alkohol atau ethanol untuk kebutuhan medis.

Namun dalam kenyataanya banyak perajin tidak memiliki izin dan hanya memproduksi ciu.
“Jumlah perajin yang memproduksi ciu sekarang justru lebih banyak dibandingkan perajin penghasil alkohol atau ethanol. Kenapa bisa begitu karena perajin lebih memilih mendapatkan keuntungan cepat,” lanjutnya.
Diperkirakan di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban ada ratusan perajin yang memproduksi ciu. Jumlah perajin tersebut lebih banyak dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Peningkatan bahkan bisa terjadi dalam tahun berikutnya mengingat produksi ciu semakin banyak.
Menurut Sabariyono, rata-rata para perajin ciu bisa menghasilan sekitar seratusan liter perhari. Jumlah tersebut bisa meningkat apabila produksi dari perajin diperbanyak untuk memenuhi pesanan atau penambahan penjualan.

“Produksi ciu memang lebih cepat dibandingkan memproduksi alkohol. Perbandinganya tiga liter ciu hanya bisa menghasilkan satu liter alkohol,” lanjutnya.
Meski perajin ciu betebaran, polisi tak begitu saja tinggal diam. “Polres Sukoharjo bersama semua unsur penegak hukum dan Pemkab Sukoharjo terus akan memerangi peredaran minuman keras (miras) termasuk ciu yang sangat dikenal diproduksi di Bekonang, Mojolaban,” tegas Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi.(Mam)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Stafsus Kemenpar Kenalkan GenPI dan Destinasi Digital ke Mitra Co-Branding WI

JAKARTA (MERAPI) – Semakin eksisnya Generasi Pesona Indonesia (GenPI) dan sustainnya destinasi digital besutan GenPI, membuat Kementerian Pariwisata kian intens

Close