DP PEMBELIAN UNIT APARTEMEN HANGUS-Investor Properti Gugat Pengembang Apartemen

SLEMAN (MERAPI) – Seorang investor properti, Tito Sudarmanto (36) warga Murtigading Sanden Bantul menggugat pengembang apartemen PT Adhi Persada Properti Bekasi (tergugat I) dan Senior Marketing Manager Raden Ardian Pradhana (tergugat II), warga Perum Taman Bunga Regency Dero Codong Catur Depok Sleman ke Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Senin (11/3). Penggugat juga menarik notaris Armansyah Prasakti SH dan Kantor Badan Pertanahan Kabupaten (BPN) Sleman sebagai turut tergugat karena terlibat dalam perkara ini.
Dalam sidang pertama dengan majelis hakim yang diketuai Suparna SH, kedua turut tergugat tak hadir, sehingga persidangan ditunda dan dilanjutkan 25 Maret mendatang.

“Kali ini baru sidang pertama, karena belum lengkap maka persidangan belum bisa dilanjutkan,” ujar kuasa hukum penggugat, R Sudjadi Wisnumurti SH CIL didampingi Safiuddin SH kepada wartawan usai sidang.
Dalam gugatan disebutkan, selama ini penggugat dikenal sebagai pengusaha atau bisnis investasi properti seperti jual beli unit apartemen. Salah satu bisnis yang dijalankan investasi apartemen Taman Melati Sinduadi di Pogung Kidul Mlati Sleman. Diketahui tergugat I yang membangun dan menjual apartemen Taman Melati Sinduadi seluas 4.784 m2, dimana penggugat telah memasukkan investasinya.
Selanjutnya pada Juli 2018 tergugat II sebagai Senior Marketing Manajer PT Adhi Persada Properti menawarkan kepada penggugat peluang usaha investasi properti apartemen Taman Melati Sinduadi dengan mekanisme bila penggugat membeli 120 unit apartemen maka tergugat II akan menjual kembali dengan hanya membayar booking fee atau down payment.

Awalnya tergugat II memberikan tawaran investasi kepada penggugat Rp 25 juta/m2, karena terlalu mahal diturunkan menjadi Rp 22 juta/m2. Setelah tergugat II berkonsultasi dengan tergugat I diwakili Project Director Manajer Apartemen Taman Melati Sinduadi disepakati harga jual Rp 20 juta/m2 dan penggugat harus membayar booking fee Rp 1,8 miliar. Selanjutnya penggugat mentransfer ke rekening tergugat I secara bertahap sebanyak tiga kali dengan total Rp 1,8 miliar.
Setelah pembayaran dilakukan penggugat dan tergugat II menindaklanjuti kerja sama dengan menandatangani di hadapan turut tergugat I atau notaris yang intinya tergugat II diberikan kewajiban menjualkan kembali 120 unit apartemen Taman Melati Sinduadi dalam waktu 6 sampai 12 bulan dengan harga Rp 25 juta/m2 kemudian dilakukan perjanjian kerja sama.

Setelah itu pada Desember 2018 tergugat I menghentikan penjualan 120 unit rumah terhadap tergugat II. Bahkan tergugat I tak mengakui kesepakatan yang dibuat penggugat dan tergugat II. Tergugat I menganggap pembelian 120 unit apartemen secara putus layaknya konsumen biasa dan meminta penggugat menandatangani Surat Perjanjian Pemesanan Unit (SPPU). Apabila penggugat tak menandatangani SPPU maka uang yang telah dibayarkan dinyatakan hangus.
Selanjutnya berdasarkan surat tergugat II tentang kelanjutan pembelian 120 unit apartemen penggugat wajib membayar DP 20 persen dari harga satuan unit apartemen Taman Melati Sinduadi dan apabila tak dilakukan maka uang yang dibayarkan akan hangus. Hal ini bertentangan dengan perjanjian kerja sama penggugat dengan tergugat II yang diketahui tergugat I.

Tindakan tergugat I yang menghentikan penjualan apartemen yang dilakukan tergugat II mengakibatkan penggugat rugi Rp 1,8 miliar. Selain itu penghentian penjualan yang dilakukan tergugat I mengakibatkan penggugat mengalami kerugian, apabila dihitung sebesar Rp 24,7 miliar. Selain itu kerugian penggugat dari 3 pembeli unit apartemen senilai Rp 909 juta dan pembatalan 2 pembeli Rp 30 juta, sehingga total kerugian keseluruhan mencapai Rp 27,5 miliar. (C-5)

Read previous post:
Paramarta Gelar Pelatihan Penulisan Novel Bahasa Jawa

DALAM rangka memberikan bekal para anggota juga bagi masyarakat umum yang tertarik dengan penulisan novel berbahasa Jawa, Paguyuban Sastrawan Jawa

Close