STUDI BANDING KE B2P2TOOT – Sleman Siap Kembangkan Sentra Industri Jamu

MERAPI-AWAN TURSENO Sri Muslimatun meninjau proses pengolahan tanaman obat menjadi jamu tradisional.
MERAPI-AWAN TURSENO
Sri Muslimatun meninjau proses pengolahan tanaman obat menjadi jamu tradisional.

KARANGANYAR (MERAPI) – Berbagai potensi Kabupaten Sleman harus terus digali untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Bukan hanya potensi wisata alam, tapi budaya dan sentra industri maupun kerajinan. Salah satunya adalah sentra industri jamu gendong di Desa Lumbungrejo, Tempel.

Guna menunjang keberhasilan program tersebut, Pemkab Sleman bersama beberapa wartawan yang tergabung dalam Paguyuban Wartawan Pemkab Sleman (PWPS) melaksanakan studi banding ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Rombongan diterima Kepala B2P2TOOT, Akhmad Saikhu, Bidang Pelayanan dan Penelitian Slamet Wahyono serta beberapa peneliti, Rabu (6/3).

Dalam kunjungannya Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menyampaikan, kedatangannya sebagai upaya belajar dan menyerap ilmu terkait tanaman obat dan obat tradisional atau lebih dikenal jamu. Hal ini dilaksanakan karena Kabupaten Sleman memiliki sentra industri jamu gendong terutama di wilayah Desa Lumbungrejo.

“Kita telah memiliki sentra industri jamu gendong dengan berjumlah lebih dari 30 kelompok. Dalam satu kelompok tadi, anggotanya puluhan orang,” katanya.

Menurutnya, dalam membuat jamu, mereka sebagian besar bahan bakunya bukan dari hasil budidaya sendiri. Melainkan membeli ke daerah lain seperti Magelang, Wonogiri dan Pasar Beringharjo. Kondisi ini menjadikan pengembangan dan keuntungan industri jamu gendong tidak maksimal.

Untuk itu, lanjut Muslimatun, pengembangan sentra industri jamu gendong di Kabupaten Sleman harus menerapkan sistem dari hulu hingga hilir. Artinya, lokasi tersebut harus membudidayakan sendiri tanaman obat sebagai bahan baku. Apalagi Sleman memiliki lahan dan iklim yang sangat mendukung untuk budidaya. Hasil panen tersebut kemudian diolah sendiri menjadi jamu hingga siap dipasarkan ke konsumen.

“Kalau bisa dari hulu sampai hilir, maka kualitas dan persediaan bahan baku dapat terjamin. Karena dalam budidaya tanaman obat sesuai kebutuhan, kualitas jamu terjaga karena dapat memilih sendiri bahan yang baik,” imbuhnya.

Jika program tersebut berjalan dengan baik, dapat dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata baru. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan obat tradisional dari budidaya tanaman hingga hasil akhir menjadi jamu siap minum.

Pada kesempatan tersebut, Akhmad Saikhu menjelaskan, B2P2TOOT merupakan salah satu unit dari Kementerian Kesehatan yang memiliki tugas pokok melakukan penelitian dan pengembangan jamu dan obat tradisional. Yaitu penelitian dari hulu sampai hilir meliputi budidaya tanaman hingga pasca panen, penelitian praklinis dan klinis sampai uji coba kepada manusia yang dilakukan di klinik.

Dijelaskan, sejak tahun 2010-2018 pihaknya telah mengembangkan 13 jenis ramuan jamu yang terbukti secara ilmiah (saintifik). Produk yang dihasilkan tersebut masih dalam bentuk serbuk. Direncanakan, kedepan akan dikembangkan menjadi bentuk ekstrak agar lebih praktis saat dikonsumsi masyarakat.
Ditegaskan Akhmad, B2P2TOOT tidak memproduksi dan menjual hasil jamu saintifik. Hasil penelitian tersebut diproduksi oleh perusahaan yang telah bekerjasama seperti Sinde Budi yang dijual ke masyarakat. Serta fasilitas pelayanan kesehatan yang telah mendapatkan ijin sesuai perundang-undangan yang berlaku.

“Kami dilarang memproduksi masal dan menjual sendiri. Hasil penelitian nantinya diproduksi oleh pabrik yang telah bekerjasama dengan kita,” timpalnya.

Disisi lain, jenis jamu yang dikembangkan telah diuji secara klinis sehingga tidak membahayakan masyarakat. Begitu pula dalam penelitian juga membandingkan antara jamu dengan obat-obat konvensional (kimia) yang hasilnya sebanding dan aman untuk dikonsumsi. (Awn)

Read previous post:
MERAPI-BAMBANG PURWANTO Petugas bersama warga memantau bencana longsor di Desa Merteku, Gunungkidul.
HUJAN PICU BENCANA-Ratusan Warga Gunungkidul Terisolir

WONOSARI (MERAPI)-Hujan dalam intensitas lama yang mengguyur wilayah Gunungkidul pada Rabu (6/3) hingga Kamis (7/3) menyebabkan bencana banjir dan tanah

Close