Sepasang Pelajar Beli Obat Aborsi Pakai Uang SPP

MERAPI-AMIN KUNTARI WL dan NA diamankan ke Mapolres Kulonprogo usai sepakat melakukan aborsi.
MERAPI-AMIN KUNTARI WL dan NA diamankan ke Mapolres Kulonprogo usai sepakat melakukan aborsi.

WATES (MERAPI)- Sepasang kekasih yang masih berstatus pelajar, WL (19) dan NA (18) tertunduk lesu saat dihadirkan dalam jumpa pers kasus yang menjerat mereka, yakni aborsi di Mapolres Kulonprogo, Selasa (5/3). Kepada wartawan, sang cowok, WL mengaku usaha mereka untuk aborsi tak hanya dilakukan sekali.
“Pas usia kandungan pacar saya masih tiga bulan, pernah dicoba pakai nanas muda. Cara itu dilakukan satu kali, namun gagal,” kata WL.
Selanjutnya, kata dia, mereka masih berusaha menggugurkan kandungan dengan berbagai cara.
“Cewek saya (NA) kemudian mencari informasi di internet, kemudian dapat obat (aborsi). Kami beli secara online,” ungkap WL.
Harga obat yang ditawarkan di internet terbilang mahal untuk ukuran pelajar, yakni Rp 1 juta. WL dan NA pun kemudian patungan dengan menyelewengkan uang pembayaran SPP yang diberikan orangtua mereka. Akhirnya mereka membeli obat yang dipesan.

Meski obat sudah digunakan, namun jabang bayi masih bertahan di kandungan NA.
Selang tiga hari, obat yang sama kembali dibeli dengan harga Rp 750.000. Upaya aborsi menggunakan obat tersebut kembali dilakukan di sebuah penginapan kawasan pantai wilayah Bantul, pada 17 Februari. Kali ini, keduanya berhasil dan bayi dalam kandungan yang berusia 7 bulan itu meninggal dunia.
Sementara itu, NA mengaku sudah setahun berpacaran dengan WL. Selama hamil, dia pun tetap bersekolah seperti biasa. Ia berupaya menyembunyikan kehamilan rapat-rapat dengan cara mengenakan pakaian longgar. “Karena itulah, orangtua tidak mengetahui tentang kehamilan saya dan baru terbongkar di rumah sakit,” paparnya.

Kapolsek Sentolo, Kompol Kodrat menambahkan, meski ditahan polisi, keduanya dimungkinkan akan diberi kesempatan untuk mengikuti ujian agar bisa lulus SMA. Setelah itu, proses hukum kembali dilanjutkan. Kodrat menegaskan jika aksi aborsi itu dilakukan atas kesepakatan kedua pelajar ini.
“Tidak ada paksaan (dalam aborsi), memang kesepakatan berdua,” katanya. Seperti diberitakan, dua remaja warga Sentolo Kulonprogo, WL (19) dan NA (18) pasangan kekasih berstatus pelajar di sebuah SMA di kawasan Sentolo sepakat melakukan aborsi saat usia kehamilan NA sudah mencapai tujuh bulan. Ironisnya, jabang bayi yang diracuni obat keras tersebut justru meninggal di dalam perut, hingga proses kelahirannya harus dibantu petugas medis di rumah sakit. Aksi bejat keduanya pun akhirnya terbongkar dan mereka sudah diamankan polisi. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Lebih Dekat dengan Komunitas Sepeda Onthel Jimatan

TERASA ringan tapi tetap mantap! Itulah sedikit gambaran tentang kenikmatan yang dirasa saat berkendara sepeda onthel tua. Karenanya, tidak heran

Close