UPAL DI KULONPROGO DARI SEMARANG-Mirip Uang Asli Saat Dicek Sinar UV

MERAPI-AMIN KUNTARI Polisi menunjukkan barang bukti kasus uang palsu yang diperoleh dari tersangka baru.
MERAPI-AMIN KUNTARI /Polisi menunjukkan barang bukti kasus uang palsu yang diperoleh dari tersangka baru.

PENGASIH (MERAPI)- Petugas Satreskrim Polres Kulonprogo berhasil menangkap tersangka baru pada kasus peredaran uang palsu yang terjadi di Pasar Jagalan, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo. Keterangan yang diberikan tersangka KS (46), pelaku peredaran di Kalibawang, memudahkan polisi melacak keberadaan pembuat uang palsu, AW (30), warga Pekalongan Jawa Tengah. AW ditangkap di kediamannya, dua hari setelah KS diamankan.
Barang bukti yang diamankan polisi dari AW cukup banyak. Selain uang palsu pecahan seratus ribu sebanyak 900 lembar dan pecahan lima puluh ribu 100 lembar, polisi juga mendapati alat-alat yang digunakan tersangka untuk mencetak uang palsu.
“Seluruh peralatan ini kami sita dari rumah kontrakan pelaku di Semarang, Jawa Tengah,” kata Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution kepada wartawan, Jumat (1/3).

Kapolres menyebut, alat pencetak uang palsu ini terdiri dari satu komputer, satu laptop, tiga printer dengan tinta berbagai warna, tiga lampu neon, enam screen sablon beserta tiga rachel sablon dan cat sablon berbagai warna. Selain itu polisi juga mengamankan tiga rim kertas resta, obat afdruk, kertas afdruk dan botol berisi serbuk fosfor.
“Ada pula 203 lembar kertas yang sudah dicetak gambar uang palsu. Setiap lembarnya terdapat empat gambar uang palsu pecahan seratus ribu,” jelasnya.
Kapolres menilai, AW merupakan pelaku pencetak uang palsu yang profesional. Sebab, uang palsu yang dicetaknya memiliki banyak kemiripan dengan uang asli. Saat dicek menggunakan lampu Ultra Violet (UV) misalnya, bisa muncul tanda air seperti uang asli.
“Dia sudah berpengalaman, sehingga bisa mencetak uang semirip mungkin dengan yang asli,” imbuh Kapolres.

Meski demikian, perjalanan AW dalam mencetak uang palsu tidak selalu mulus. Ia pernah tertangkap dan dihukum penjara di wilayah Slawi Jawa Tengah selama hampir tiga tahun. AW baru bebas pada November 2018 namun ternyata hukuman tersebut tidak berefek jera.
“Dia ini residivis kasus yang sama,” kata AKBP Anggara.
Selama ini, pencetakan uang palsu dilakukan AW berdasar pesanan. Ia menjual 50 lembar uang palsu pecahan seratus ribu atau senilai lima juta dengan harga Rp 1 juta. Kemampuan mencetak uang palsu ini ia peroleh setelah sebelumnya terjun ke dunia percetakan.
“Hasil kejahatan ini saya pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” kata AW.

Akibat perbuatannya, AW dijerat Pasal 36 Ayat 3 juncto Pasal 26 Ayat 3 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan Pasal 36 Ayat 2 juncto Pasal 26 Ayat 2 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara, sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, subsider Pasal 55 KUHP. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Anggota FUSIKOM Laskar PPP Sleman yang dipimpin M Habib Fatih Rusydi saat berkunjung ke Redaksi Koran Merapi.
FUSIKOM Lakar PPP Bantah Sweeping Bendera Parpol

YOGYA (MERAPI)- Forum Silaturahmi dan Komunikasi (FUSIKOM) Laskar PPP Sleman membantah adanya sweeping bendera partai politik dan pelemparan rumah warga

Close