DITUDUH GELAPKAN UANG DAN DILAPORKAN KE POLDA-Kuasa Karyawan STIE Kerjasama Gugat Sesama Karyawan


Wisnu Harto SH selaku kuasa penggugat saat menunjukkan gugatan yang diajukan ke PN Bantul. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Wisnu Harto SH selaku kuasa penggugat saat menunjukkan gugatan yang diajukan ke PN Bantul. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

BANTUL (MERAPI) – Seorang mantan karyawan STIE Kerjasama, Timbagan Ginting SE warga Sampangan Wirokerten Banguntapan Bantul yang dipercaya sebagai kuasa mantan karyawan mengajukan gugatan melawan hukum terhadap teman sesama mantan karyawan, Margono dkk warga Karet Pleret Bantul ke Pengadilan Negeri (PN) Bantul. Gugatan diajukan setelah penggugat merasa dirugikan karena dituduh telah menggelapkan uang milik teman sesama mantan karyawan hingga dilaporkan ke Polda DIY.

“Sampai saat ini proses perkara gugatan perdata masih dalam taraf mediasi,” ujar Wisnu Harto SH dan R Suparno Hermawan SH selaku kuasa hukum penggugat kepada wartawan, Senin (18/2).

Disebutkan, tergugat Gandhi Suratno bersama 11 orang mantan karyawan Pendidikan Kerjasama telah melakukan kesepakatan dengan Pengurus Yayasan Pendidikan Kerjasama pada 26 Desember 2007 yang intinya kondisi tempat kerja di luar dari keadaan normal. Sehingga sejak Maret 2002 sampai Desember 2007 banyak karyawan tidak aktif bekerja.

Tetapi pengurus Yayasan Pendidikan Kerjasama bersedia membayar upah karyawan yang terutang. Apabila tidak sanggup membayar gaji maka Yayasan Pendidilan Kerjasama akan meyerahkan aset tanah dan bangunan di Jalan Purwanggan dan Bulak Balong melalui PHI sebagai jaminan yang kemudian dijual atau dilelang untuk membayar gaji karyawan yang terutang.

Selanjutnya tergugat Agung Hartanto dan Gandhi Suratno dan 15 mantan karyawan Pendidikan Kerjasama yang disebut Tim 17 mewakili karyawan edukatif dan nonedukatif telah menadatangani kesepakatan bersama dengan pengurus Yayasan Pendidikan Kerjasama setuju dilakukan PHK dan menyerahkan aset sebagai jaminan atas pesangon 155 karyawan. Aset tersebut berhasil dijual untuk membayar gaji terutang, pesangon dan tali asih mantan karyawan, tetapi baru mendapat Rp 11 juta dan tergugat membuat laporan polisi ke Polda DIY akibat kekurangan pembayaran tersebut.

Setelah pembayaran dan laporan polisi dari tergugat, tidak ada kejelasan menyangkut kekurangan pembayaran sampai kemudian Yayasan Pendidikan Kerjasama dipailitkan Pengadilan Niaga Semarang tetapi mantan karyawan tidak mengetahui dan tak mengajukan tagihan ke kurator.

Setelah kesepakatan bersama, penggugat telah mengumpulkan mantan karyawan Pendidikan Kerjasama termasuk para tergugat untuk membahas kekurangan gaji, pesangon dan tali asih. Mantan karyawan Pendidikan Kerjasama sebanyak 155 orang termasuk tergugat telah memberikan kuasa kepada penggugat untuk membayar kekurangan gaji, pesangon dan tali asih.

Selanjutnya penggugat mengajukan tagihan utang sebesar Rp 5,385 miliar ke Yayasan Pendidikan Kerjasama dan akhirnya disetujui. Para mantan karyawan termasuk tergugat menandatangani pernyataan yang intinya tunduk dan patuh atas kekurangan gaji, pesangon dan tali asih yang diwakili penggugat telah menerima uang Rp 11 juta dan Rp 1 juta dan sisanya hak penggugat.

Tetapi penggugat tiba-tiba mendapat surat dari LBH Dharma Yudha mengklaim penggugat masih kurang membayar para tergugat dan karyawan lain sebanyak 77 orang sebebesar Rp 1,5 miliar dan melaporkan ke Polda DIY. Akibat perbuatan para tergugat dan 77 mantan karyawan telah mencoreng nama baik penggugat sehingga menyebabkan kerugian materiil Rp 52,5 juta dan kerugian immateriil sebesar Rp 30 miliar sehingga diajukan gugatan perdata ke PN Bantul. (C-5)


Read previous post:
Bawa Pedang untuk Jaga-jaga, Ditangkap

CANGKRINGAN (MERAPI)- Tenteng senjata tajam, AS (26) warga Tanjung, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, diamankan Petugas Polsek Cangkringan, Minggu (17/2) sore. Dari

Close