Tekuni Budidaya Tikus Putih, Suparno Berhasil Kuliahkan Anak

Suparno saat menimbang tikus putih jenis wistar. (MERAPI-TEGUH)

BUDIDAYA tikus putih bagi sebagian orang akan merasa jijik. Namun tidak demikian bagi Suparno warga Timbulharjo Sewon Bantul yang sudah biasa bergaul dengan binatang pengerat dalam jumlah banyak. Ia membudidayakan tikus putih sejak kisaran 15 tahun lalu. Bahkan hasil dari piaraannya itu antara lain berhasil menguliahkan satu dari tiga anaknya, sehingga sampai mendapat gelar sarjana.

“Berkat beternak tikus ini saya bisa menuntaskan anak sulung saya bisa lulus sarjana,” ungkap Suparno ketika ditemui Merapi di rumah sekaligus kandang peternakannya, Rabu (13/2).

Jenis tikus putih, lanjut Parno, antara lain bisa digunakan sebagai uji coba di dalam laboratorium dan praktikum oleh para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Menurut dia, ada dua jenis tikus yang diternaknya yaitu jenis wistar yang berbadan besar dan balb-c alias mencit yang berukuran kecil. Selain banyak dibutuhkan oleh mahasiswa di perguruan tinggi untuk bahan pratikum terkait uji laboratorium. Dua jenis tikus ini juga banyak dibutuhkan untuk pasokan pakan berbagai reptil, seperti ular misalnya. Hampir setiap bulannya bisa dipastikan selalu saja ada permintaan tikus untuk kepentingan uji pratik laborat, sehingga dia harus selalu siap menyediakan tikus sesuai dengan ukuran, bobot serta usia sebagaimana yang dibutuhkan.

“Untuk keperluan laboratorium dan praktik memang harus sesuai permintaan dari usia, ukuran juga bobotnya. Biasanya satu bulan sebelumnya mereka sudah pesan, sehingga saya bisa menyiapkan sesuai dengan permintaan itu,” ucap Suparno.

Budi daya tikus putih menurut dia, sebenarnya mudah bahkan bisa dijadikan pekerjaan sambilan. Hanya saja memang harus rajin membersihkan serta mengontrol kandang agar selalu bersih dan tidak menimbulkan bau. Apa lagi bila beternak di tengah perkampungan, seperti yang dikerjakannya. Untuk menjaga lingkungan agar tidak tercemar, memang harus dilakukan manajemen kandang yang bagus.

Ada tiga pola kandang yang digunakan untuk budi daya ini, pola kandang untuk kawin dengan satu pejantan 4 betina. Setelah indukan tampak buncit karena mengandung pada usia 2 minggu lantas dipisahkan ke kandang persalinan. Setelah melahirkan pada usia anakan 20 hari indukan diambil, kemudian digemukan selama 2 minggu dan siap dimasukan ke dalam kandang perkawinan lagi.

“Sedangkan anakannya masuk kandang pembesaran, sampai usia dua bulan ketika bobot sudah mencukupi siap dikirim ke pemesan,” tandas dia.

Pemasaran selama ini menurut Suparno tidak ada kendala, hampir semua perguruan tinggi seluruh Indonesia mengambil tikus pratikum ke dia. Bahkan sepengetahuan Parno, di Yogyakarta tinggal dirinya yang saat ini masih bertahan. Meski ada sejumlah peternak plasma namun hasilnya selalu dijual ke kandangnya. Harga tikus putih kisaran Rp 15.000 hingga Rp 35.000 sesuai dengan permintaan.

Saat ini yang dikeluhkannya adalah pengiriman antar daerah yang harus menggunakan pesawat terbang, selain jatah berat yang telah ditentukan prosedur karantina pun menjadi salah satu faktor sering kali gagalnya pengiriman.

“Sebelum kirim biasa ada rekomendasi dari Puskeswan setempat, setelah dinyatakan sehat bisa dibawa keluar. Untuk antar daerah menggunakan pesawat harus lewat karantina dan berat pengiriman pun sudah ditentukan, ini yang terkadang menghambat,” pungkasnya. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Tali Asih Rp 25 Miliar Bagi Penggarap PAG Cair

WATES (MERAPI) - Dana tali asih bagi warga penggarap lahan Puro Pakualaman atau Paku Alam Ground (PAG) yang terdampak pembangunan

Close