Dijajaki Pemanfaatan Musuh Alami Tikus

Pengendalian tikus dengan pengasapan. (Foto:Abdul Alim)
Pengendalian tikus dengan pengasapan. (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Petani di Karanganyar menjajaki pemanfaatan musuh alami tikus untuk mengendalikan serangannya. Cara tersebut mendampingi pengendalian manual seperti gropyokan, mengasapi dan menebar racun.
“Dulu, petani pernah memelihara burung hantu. Selain untuk memangsa tikus, juga bisa untuk menakutinya. Namun tidak berlangsung lama. Karena pemeliharaannya sulit. Burung hantunya terbang entah kemana,” kata Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Suruhkalang, Jaten, Haryono, Minggu (10/2).

Ia tak menyanggah petani di desanya belum pernah memanfaatkan musuh alami tikus. Jika mencobanya, para petani merasa khawatir bakal menemui kendala serupa, yakni sulit memelihara burung hantu. Terlebih, mereka belum pernah diberi pelatihan cara memelihara burung itu.

Di Suruhkalang, hama tikus merusak 12 hektere lahan pertanian. Guna mengatasinya, dilakukan aksi massal gropyokan, penebaran racun tikus dan pengasapan oleh petani dibantu babinsa, babinkamtibmas dan pemerintah desa setempat.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian dan Pangan Karanganyar, Suyatno mengatakan pemanfaatan musuh alami tikus sulit diterapkan di Karanganyar. Menurutnya, dibutuhkan pemahaman kolektif dari petani.

“Kalau petani secara keseluruhan bersama-sama memakai burung hantu, bisa. Dan itu efektif. Kembali lagi ke petani, karena mereka menginginkan cara cepat dengan gropyokan. Namun untuk gropyokan, biasanya tikus lari ke tempat lain,” katanya.

Sebelum mengusulkan pemanfaatan burung hantu atau ular sawah, ia membutuhkan studi banding ke daerah pertanian yang berhasil seperti Kabupaten Demak.
Ia mengakui serangan tikus di sawah wilayah Jaten mulai mengkhawatirkan. Sejauh ini, pihaknya mengintensifkan gropyokan bermodal obat kimia dan pengasapan.

Camat Jaten, Aji Pratama Heru K menjajaki komunitas pemelihara burung hantu di Solo. Harapannya, komunitas bersedia menyewakan hewan peliharaannya itu ke petani Jaten sekaligus mengajarkan metode memeliharanya. “Ada riwayat petani kita memelihara burung hantu untuk membasmi hama. Di Jati dan di Kebakkramat. Rencana mencari komunitas pemelihara burung hantu di Solo buat disewa membasmi tikus,” katanya. (Lim)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
Gagal Memperkosa, Pemabuk Dihajar Warga

WONOSARI (MERAPI)- Seorang pemuda pengangguran, Hrm (26) warga Desa Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul babak belur dihakimi massa usai gagal memperkosa tetangganya,

Close