PERBUATAN TERDAKWA BUKAN TINDAK PIDANA- Pengusaha Pengeboran Minyak Divonis Lepas


Terdakwa Hadi Sutoyo (2 dari kiri) bersama istri dan penasihat hukum usai menjalani sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Bantul.(MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Terdakwa Hadi Sutoyo (2 dari kiri) bersama istri dan penasihat hukum usai menjalani sidang pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Bantul.(MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

BANTUL (MERAPI) – Pengusaha pengeboran minyak, Ir Hadi Sutoyo (62) warga Kampung Burujul Cisarua Bogor yang dituntut 3 bulan penjara oleh jaksa penuntut umum Sabar Sutrisno SH akhirnya divonis lepas majelis hakim yang diketuai Sri Wijayanti Tanjung SH dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Rabu (6/2). Hakim menilai perbuatan yang dilakukan terdakwa bukanlah suatu perbuatan tindak pidana sehingga lepas demi hukum.

Atas vonis yang dijatuhkan, jaksa menyatakan pikir-pikir. Sementara terdakwa melalui penasihat hukumnya Enji Pusposugondo SH menyatakan menerima putusan tersebut karena sudah sesuai dengan harapan yang disampaikan dalam pledoi atau pembelaannya.

“Kami mencermati banyak pertimbangan majelis hakim yang sepakat dengan pledoi terdakwa. Hakim menjunjung kepastian hukum, keadilan dan kebenaran tidak hanya normatif aturan hukum saja,” ujar Enji kepada wartawan usai sidang.

Selain itu, terdakwa dan penasihat hukum sangat mengapresiasi kinerja majelis hakim yang profesional dalam menjatuhkan putusan lepas kepada terdakwa. Bahkan hakim juga mengembalikan barang bukti 4 sertifikat ke tangan terdakwa. Untuk itu terdakwa sendiri menerima putusan dan menunggu sikap jaksa penuntut umum yang menyatakan pikir-pikir apakah ada upaya hukum lainnya atau tidak.

Diketahui sebelumnya, terdakwa didakwa telah melakukan penggelapan empat sertifikat milik adik iparnya, Alexander Theodore Lamoh. Sebelumnya saksi korban bersama istrinya pada 2008 membeli rumah secara KPR lunas pada 18 Desember 2012 kemudian menerima sertifikat.

Selanjutnya pada 5 Desember 2009 saksi korban membeli tanah dengan SHM 02229/Trimulyo dengan harga Rp 7 juta milik saksi Rosa. Dari pembelian itu penjual menyerahkan SHM beserta surat jual beli bawah tangan kepada terdakwa. Setelah itu saksi korban dan istrinya kembali membeli rumah dari Romo Josep SHM 03137/Trimulyo seharga Rp 23 juta. Terakhir saksi korban membeli tanah SHM 02230/Trimulyo milik Agus Surya Kawaca seharga Rp 10 juta.

Pembelian tanah tersebut dilakukan dengan menggunakan uang terdakwa dan istrinya yang ditransfer ke saksi korban, karena merasa memiliki keempat sertifikat tanah tersebut. Selanjutnya pada 30 Mei 2013 terdakwa bersama isterinya mendatangi rumah saksi korban untuk meminjam keempat sertifikat.
Karena sertifikat belum dibalik nama maka dicarikan notaris untuk dilakukan balik nama. Setelah itu terdakwa mendatangi notaris Agatha Irmawati untuk membalik nama sertifikat atas nama isterinya Dana Christina dan nanti akan diserahkan ke anak-anak saksi korban setelah dewasa.

Namun karena tidak memenuhi syarat maka balik nama tak bisa dilanjutkan dan sertifikat tak dikembalikan. Tetapi perbuatan terdakwa dilaporkan pihak berwajib hingga bergulir ke persidangan. Tetapi majelis hakim memiliki pandangan dan pendapat lain kalau terdakwa tak terbukti melakukan perbuatan pidana. (C-5)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
PEMBANGUNAN EMPAT JEMBATAN- Ruas Jalan Gito-Gati Mulai Ditutup

 SLEMAN (MERAPI) -Ruas Jalan Gito-Gati, Sleman resmi ditutup mulai Rabu, 6 Februari 2019. Penutupan ini dalam rangka pembangunan empat jembatan

Close