Angkat Persoalan Keadilan, Pentas Kolaborasi Tutup Pagelaran 3Jadi#6

Salah satu adegan Pentas Kolaborasi dalam acara 3 Jadi yang digelar seluruh siswa SMKI, SMM, dan SMSR. (MERAPI-RIZA MARZUKI)
Salah satu adegan Pentas Kolaborasi dalam acara 3 Jadi yang digelar seluruh siswa SMKI, SMM, dan SMSR. (MERAPI-RIZA MARZUKI)

PENGALAMANNYA saat mengikuti orientasi siswa, melatarbelakangi Cornel Innos mengambil tema keadilan dalam pentas kolaborasi, Minggu (27/1) malam. Pentas bersama siswa SMKI dan SMM ini merupakan penutup dari acara 3 Jadi #6 yang sebelumnya dibuka dengan pameran seni rupa siswa SMSR. Acara yang dilaksanakan Sabtu-Minggu (26-27/1) itu merupakan wadah bersama antar siswa di tiga sekolah seni tersebut. Sehingga Pendapa Widhi Widhana yang berada di tengah kompleks SMK itu dijadikan pusat acara selain Galery Seni Rupa SMSR.

Seorang panglima sebuah kerajaan menjadi tokoh antagonis yang menggambarkan penindasan terhadap rakyat. Padahal di belakang itu ada seorang raja yang sangat mencintai rakyatnya. Penindasan-penindasan itulah yang akhirnya membuat masyarakat bawah bersatu dan membuka tabir kebusukan panglima kepada sang raja. Adegan demi adegan diperankan 80 siswa Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dan Sekolah Menengah Musik (SMM). Sutradara pementasan, Cornel Innos menjelaskan tema yang diangkat ini merupakan visualisasi dari tema acara, Semangat Bintang Merah-Pantang Menyerah. “Dulu waktu orientasi siswa kakak kelas sering memberi tugas yang bagi siswa baru cukup berat, itu menginspirasi cerita ini dibangun,” sebut siswa kelas XII jurusan teater SMKI tersebut.

Setidaknya membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk berproses baik latihan maupun pemantapan. Sutradara muda kelahiran Yogyakarta ini mengatakan kolaborasi musik antara orkestra dan gamelan menjadi bagian paling sulit digarap. Memadukan tempuk gending antara alat musik tradisional jada dan alat musik barat dalam satu bagian bukan perkara mudah. Namun begitu, sorak sorai penonton saat kedua jenis musik ini berpadu menurutnya sebagai salah satu penanda keberhasilan. “Teman-teman sudah memiliki kemampuan bermain yang baik, asal kita coba terus pasti bisa,” ungkapnya.

Wakil Pimpinan Produksi, Yohanes Bre Sukma sebelum pementasan menjelaskan acara ini merupakan wahana unjuk kebolehan siswa dari tiga sekolah seni. Pameran seni rupa yang digelar di Galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) pun mendapat respon baik dari masyarakat. Selama dua hari setidaknya 3000 orang mengunjungi pameran bertajuk Siklorama ini. Sebagai pimpinan pameran, Ahmad Syam mampu menghadirkan karya-karya visual dari 7 jurusan yang ada di SMSR. “Antusias pengunjung pameran tinggi, sampai malam penutupan pun masih ada yang datang menikmati pameran,” sebutnya.

Meski selalu saja ditemui kendala dalam setiap persiapannya, namun 3 Jadi ini akan terus digelar secara rutin tiap tahunnya. Hal ini tentu saja membawa pesan persatuan dan kolaboratif antar siswa di tiga sekolah tersebut. Energi positif sangat terbangun disaat siswa seni rupa, seni pertunjukan, termasuk seni musik dapat berproses bersama dan mengkolaborasikan kemampuan dengan siswa lain. “Pendapa ini bagi kami menjadi kampus, sehingga harapannya setiap tahun kami bisa berproses bersama,” pungkasnya. (C-1)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MENGACU PADA UU PEMILU – Pelayanan A5 Hingga H-30

SLEMAN (MERAPI) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman masih membuka pengurusan formulir pindah memilih atau A-5 hingga 30 hari sebelum

Close