SARASEHAN ESTETIKA KERIS: Banyak Perbedaan Cara Pandang Keris

MERAPI-TEGUH sarasehan yang menarik perhatian penggemar keris dan akademisi.
MERAPI-TEGUH
Sarasehan yang menarik perhatian penggemar keris dan akademisi.

DALAM kehidupan masyarakat Jawa, selama ini keris masih mendapatkan tempat yang sedemikian luhur sehingga menjadi bagian dari keberadaan status sosial seseorang. Namun demikian berbeda cara pandang dalam mensikapi keberadaan keris sebagai warisan leluhur, menjadi berbeda pula perlakuan serta memposisikan keris oleh warga masyarakat kebanyakan. Keris itu memiliki 4 unsur dalam pembentukannya yaitu unsur besi, api, air dan angin dimana keempat unsur itu menyatu menjadi manunggal jenis sebagai keris. Demikian dungkap Ketua Padepokan Keris Brojodiningrat Sukaharjo, Empu Totok Brojodiningrat, dalam acara Sarasehan Estetika Keris di Ruang Audio Visual Seni Rupa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Kamis (24/1).

Dalam pandangan Empu Totok, banyak filosofi yang terkandung dalam prosesi pembuat keris terkait dengan ukuran, bentuk serta berbagai ricikan yang membuat sebuah keris memiliki karakteristik tersendiri. Sebagai mana manusia, keris pun akan memiliki wataknya masing-masing sesuai prosesi pembuatannya serta perlakuannya.

“Keris itu ibarat wesi ampuh nunggal jenis pemiliknya, manunggalnya napsu amarah, supiah, aluamah dan mutmainah sebagai wujud dan karakteristik sesuai dengan pemiliknya,” tutur Totok.

Pembicara lain yang hadir yaitu akademisi dosen FSRD Isi Surakarta Empu Basuki Teguh Yuwono yang membahas banyak hal terkait dengan keris yang dipandang selain memiliki nilai-nilai magis, mistis juga punya daya pesona eksotik yang memikat. Sehingga dalam pandangan dia, untuk mempelajarai keris tidak selalu dari sudut pandang keindahan fisik kerisnya saja. Namun juga perlu ditinjau dari kedalaman keris itu sebagai ranah metafisik yang membuat keris itu selalu memiliki tempat dalam masyarakatnya.

“Kita memang harus meluruskan dulu cara pandang soal keris ini, karena ketika salah dalam melihat keris maka akan salah juga pandangan terhadap keris yang merupakan warisan peradaban adi luhung ini,” tandas Empu Basuki.

Selama ini masih banyak orang memiliki cara pandang yang salah terkait dengan keberadaan keris, akibatnya banyak orang kemudian enggan masuk ke dalamnya untuk mempelajari keris darinsudut ilmiahnya. Dari mana pun orang memandang keris menurut dia, tidak menjadi soal sepanjang kelengkapan pengetahuan terkait dengan keris itu benar. Sehingga baik dikaji secara ilmiah dengan keberadaan fisiknya, estetika dan keindahannya juga dari sudut magis, mistis, taksu tidak akan menjadi soal.

“Sebagai warisan peradaban dari leluhur yang memiliki nilai sedemikian adiluhung ini, sekarang bagaimana kita memposisikan keberadaan keris itu dalam cara pandang kita. Sehingga dengan cara pandang yang benar tentunya akan menjadi peneguhan kelestarian warisan peradaban ini,” tandasnya.

Dari cara pandang estetika begitu menurut Empu Basuki, ngudi keendahan jati ada dua yaitu keindahan di kedalaman bagaimana keberadaan keris mampu menghadirkan pandangan magis, mistis taksu dalam diri seseorang. Sedangkan dari sudut pandang luar, sebuah keris mampu menghadirkan greget, gaya dan wangun. (Teguh)

Read previous post:
BERKORBAN HINGGA JUAL CINCIN KAWIN DAN RUMAH – Nanang Dirikan Waroeng Muzeum Rumah Garuda

SEMANGATNYA untuk mengumpulkan berbagai macam barang yang memiliki bentuk maupun gambar lambang negara burung Garuda Pancasila, membuatnya rajin melakukan perburuan

Close