Berawal Viral Banjir Sampah di Makam, Kemenristekdikti Menyasar Pengolahan Limbah Terpadu di Jaten

Bupati Juliyatmono bersama rombongan dari UMS meninjau mesin pencacah sampah dalam program Kemenristekdikti di Jaten. (Foto: Abdul Alim)
Bupati Juliyatmono bersama rombongan dari UMS meninjau mesin pencacah sampah dalam program Kemenristekdikti di Jaten. (Foto: Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Kemenristekdikti melalui program pengembangan teknologi tepat guna, resmi menghibahkan sarana pengolahan sampah terpadu di Desa Jaten dan Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kamis (24/1). Pengolahan sampah secara tepat diharapkan mengeliminasi dampak problem sosial dan mengedukasi ramah lingkungan.

“Sampah menjadi solusi keterbatasan energi. Kami mengucap terimakasih untuk jajaran Kemenristekdikti yang memberi hibah program pemberdayaan masyarakat melalui institusi perguruan tinggi,” kata Wakil Rektor I Universitas
Muhamadiyah Surakarta (UMS), Dr Muhammad Da’i M,Si di sela peresmian tempat pengelolaan sampah (TPS) Mitra Amanah di Rt 04/Rw XVII Desa/Kecamatan Jaten.
Di TPS itu, sampah organik dari tempat pembuangan sementara dimasukkan mesin pencacah. Melalui proses pembusukan, dihasilkan pupuk cair. Sedangkan residunya diolah lagi menjadi biogas melalui sistem degister. Dari 25 rumah sekitar TPS, biogas mengalir ke tujuh rumah. Uji cobanya juga berhasil mengalirkan listrik.

“Kami berharap proyek berlanjut. Meski dihasilkan produk ekonomis, namun kami tidak berpikir profit oriented. Diserahkan langsung ke masyarakat melalui tata kelolanya,” katanya.

Ketua Program Pengembangan Teknologi Tepat Guna UMS, Kun Harismah mengatakan dua lokasi TPS terpadu dipilih karena muncul persoalan pelik akibat pembuangan ngawur sampah rumah tangga. Dalam siaran viral di media sosial dan pemberitaan, banjir sampah di Desa Jaten meluap sampai ke area makam leluhur.

“Kami mendapat informasi melalui viral bahwa ada sampah berserakan di Rw XVII. Kami mendapat tugas pendampingan di lima titik. Dua titik sudah terealisasi di Kecamatan Jaten,” katanya.

Teknologi tepat guna di TPS ini bukan sekadar mengolah sampah menjadi energi dan produk ekonomis, namun juga disinergikan kepentingan edukasi. Sebagai contoh, TPS Mitra Amanah, Jaten berarea 250 meter persegi berisi taman pintar, kolam lele dan ikan nila, kebun sayur serta pembiakan kelinci.

“Anak-anak dapat ruang bermain dan belajar di lingkungan. Di sampingnya ada sungai yang dapat dimaksimalkan manfaatnya,” katanya.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono berharap program tersebut diperbanyak. Sebab, hampir semua wilayah perkotaan di Karanganyar mengalami masalah sampah. Tak jarang, itu memicu konflik antarlingkungan.

“Masalah sampah itu ibarat terorisme. Merusak rasa persaudaraan. Akan terasa setelah lima sampai 10 tahun kemudian,” katanya. (Lim)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
DAMPAK CUACA BURUK – Nelayan Baron tak Melaut

WONOSARI (MERAPI) - Nelayan di Pantai Baron dalam beberapa hari terakhir tidak melaut karena cuaca buruk. Ketua Nelayan Pantai Baron

Close