Setahun Ditutup Terpal, Talut Juminahan Segera Diperbaiki

Talut pemukiman di Sungai Code Juminahan yang longsor masih ditutup terpal selama setahun ini. (MERAPI-TRI DARMIYATI) 

DANUREJAN (MERAPI) – Talut pemukiman di bantaran Sungai Code di wilayah Juminahan Danurejan yang longsor akibat Badai Cempaka November 2017 akhirnya segera diperbaiki tahun ini. Pekerjaan perbaikan talut tersebut kini dalam proses persiapan untuk dilelang. Perbaikan talut juga akan disinergikan dengan penataan pemukiman warga sekitar talut.

“Detail Engineering Design (DED) pekerjaan perbaikan talut sudah selesai. Sekarang paket pekerjaan ada di bagian layanan pengadaan untuk dilelang,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Hari Wahyudi di ruang kerjanya, Rabu (16/1).

Perbaikan talut longsor, lanjutnya, menggunakan dana rehabilitasi dan rekonstruksi akibat Badai Cempaka dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan pagu anggaran Rp 4,012 miliar. Panjang talut longsor yang akan diperbaiki mencapai sekitar 135 meter dan tinggi 5 meter. Panjang talut longsor itu sudah meluas dibandingkan longsor awal akibat hujan lebat badai cempaka.

“Awalnya panjang talut yang longsor kurang dari 100 meter. Tapi karena kena hujan terus menerus akhirnya bertambah,” ujarnya.

Dia menyatakan BPBD Kota Yogyakarta sudah berupaya meminimalisir agar longsor tak meluas yakni dengan menutup terpal. Namun perbaikan talut Juminahan yang diusulkan ke pemerintah pusat baru disetujui dan dicairkan dananya ke daerah Desember 2018. Selama satu tahun ini penanganan juga hanya ditutup terpal.

“Harapannya lelang bisa segera dilakukan dan berjalan lancar sehingga triwulan kedua perbaikan talut bisa dilaksanakan,” papar Hari.

Dia menyampaikan dalam pengerjaan talut juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta yang akan menata lingkunan permukiman sekitar talut. Hal itu agar perbaikan pembangunan talut dan lingkungan permukiman bisa sinergi dan efektif.

Dia menuturkan awalnya Pemkot Yogyakarta mengusulkan perbaikan terdampak badai cempaka di tiga titik yakni talut longsor di Juminahan Danurejan, longsor di Kricak Tegalrejo dan Gampingan Wirobrajan dengan nilai sekitar Rp 6 miliar. Namun pemerintah pusat hanya menyetujui sekitar Rp 4 miliar.

“Akhirnya diprioritaskan menangani talut longsor di Juminahan karena longsor lainya relatif kecil,” imbuhnya. (Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
KALKUN HIAS BLUESLATE – Harga Cenderung Stabil, Beri Keuntungan Berlipat

BETERNAK ayam kalkun ternyata tidak serumit yang banyak dibayangkan orang. Bahkan dengan memanfaatkan waktu luang dan saat hari libur kerja

Close