DINILAI LAKUKAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM- Aktivis Gugat Ketua RT 09 Perum Cepoko


Penggugat menunjukkan surat gugatan yang diajukan ke PN Bantul.(MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Penggugat menunjukkan surat gugatan yang diajukan ke PN Bantul.(MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

BANTUL (MERAPI) -Seorang aktivis, Adhi Sri Kuncoro Harimawan warga Perumahan Cepoko Griya Indah A20 RT 09 Jalan Wonosari Km 8,5 Sitimulyo Piyungan Bantul mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum dan tuntutan ganti kerugian terhadap Kasih, Ketua RT 09 Perumahan Cepoko Griya Indah ke Pengadilan Negeri (PN) Bantul. Gugatan diajukan setelah tergugat sebagai Ketua RT 09 membuat komposter (tempat pengurai sampah organik) di dekat rumah penggugat hingga menyebabkan pencemaran lingkungan dan rumah miliknya rusak.

Dalam gugatan, penggugat diketahui bertempat tinggal di Perumahan Cepoko Griya Indah A20 di sebelah barat berbatasan langsung dengan tanah kosong milik pengembang perumahan yang akan digunakan untuk pembuatan taman. Sekitar tahun 2014, tergugat sebagai Ketua RT 09 menyetujui usulan warga membuat komposter. Kemudian komposter tersebut dibuat di tanah kosong menempel dengan tembok yang berbatasan langsung dengan rumah penggugat.

Tergugat sendiri tidak pernah memberitahukan atau meminta izin secara personal atas pembuatan komposter.Setelah komposter tersebut dibuat dan mulai dipergunakan, banyak hewan dan binatang seperti lintah, ular, tikus dan rayap masuk ke dalam rumah penggugat. Kemudian sekitar tahun 2016, tergugat sebagai Ketua RT 09 menyetujui usulan warga Perumahan Cepoko Griya Indah membuat Balai RT 09 yang dibangun di sebelah barat rumah penggugat juga berbatasan langsung dengan rumah penggugat.

Dalam pembangunan itu tergugat juga tidak pernah memberitahukan secara personal atas pembuatan Balai RT 09. Setelah Balai RT dipergunakan, diketahui ternyata talang air mengarah ke rumah penggugat sehingga ketika hujan air merembes masuk ke rumah yang membuat tembok berjamur dan genangan air di lantai.
Kemudian sekitar bulan Agustus 2018, tergugat sebagai Ketua RT 09 membuat sumur di tanah kosong yang berhadapan dengan sumur rumah pengguga memiliki kedalaman lebih dalam sehingga ketika sumur mulai difungsikan mengakibatkan sumur penggugat mengering, pompa air rusak dan tidak bisa digunakan. Karena sumur mengering, penggugat akhirnya mengungsi dari rumah dan memutuskan untuk menjual rumah tersebut.

Dari permasalahan tersebut, tergugat tak mau bertanggung jawab sehingga menyebabkan kerugian bagi penggugat. Atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan tergugat mengakibatkan penggugat mengalami kerugian materiil Rp 175 juta dan kerugian immateriil Rp 15 juta dan biaya-biaya lain Rp 4 juta sehingga total mencapai Rp 194 juta.

Sementara tergugat Ketua RT 09 Kasih menyatakan dirinya sebagai Ketua RT 09 sejak tahun 2018 seharusnya kalau digugat tidak masuk akal. Karena sepraga dibangun tahun 2016, komposter tahun 2016 dan sumur dibangun pada September 2018 dengan kedalaman 12 meter. Dari site plan perumahan telah sesuai karena di bagian depan dimanfaatkan untuk resapan dan belakang untuk sumur.

“Kalau penggugat mendalilkan terjadi kekeringan itu sudah wajar karena bersamaan dengan musim kemarau. Yang jelas semua keputusan di RT itu hasil musyawarah yang diperoleh dari kesepakatan bersama bukan otoritas pak RT. Lha kok minta ganti rugi ke Ketua RT sehingga hal ini tak masuk akal,” tegas Kasih. (C-5)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
Mencari Tersangka Perkosaan

HUBUNGAN antara Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY dengan UGM menghangat menyusul penolakan Rektor UGM Panut Mulyono untuk dipanggil ORI terkait

Close