MERASA TAK MENGGELAPKAN SERTIFIKAT TANAH- Pengusaha Pengeboran Minyak Minta Bebas


Tim penasihat hukum terdakwa menunjukkan pledoi usai pembacaan di muka persidangan PN Bantul. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)
Tim penasihat hukum terdakwa menunjukkan pledoi usai pembacaan di muka persidangan PN Bantul. (MERAPI-YUSRON MUSTAQIM)

BANTUL (MERAPI)- Tim penasihat hukum Enji Pusposugondo SH, Supriyanto SH dkk meminta majelis hakim yang diketuai Sri Wijayanti Tanjung SH membebaskan terdakwa pengusaha pengeboran minyak, Ir HS (62) warga Kampung Burujul Cisarua Bogor dalam pledoi atau pembelaan yang dibacakan di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, Kamis (3/1).

Untuk itu penasihat hukum terdakwa tak sependapat dengan jaksa Sabar Sutrisno SH yang menyatakan terdakwa bersalah melakukan penggelapan sebagaimana pasal 372 KUHP dan menuntut 3 bulan penjara. Sesuai fakta persidangan, tak ada bukti maupun saksi yang mengatakan terdakwa telah menggelapkan sertifikat tanah milik adik iparnya, Alexander Theodore Lamoh atau Ecky Lamoh.

“Untuk itu kami meminta majelis hakim memutuskan dengan memberikan putusan bebas kepada terdakwa. Karena terdakwa tak bersalah melakukan perbuatan pidana sebagaimana dakwaan maupun tuntutan jaksa,” ungkap Enji di sela-sela sidang.

Sehingga tidak benar dalam dakwaan, terdakwa merasa memiliki keempat sertifikat tanah sehingga membawa dan menggelapkan. Justru terdakwa bertanggung jawab dengan tetap berkomitmen menjalankan kesepakatan awal dengan saksi korban yang justru terdakwa dituduh menggelapkan sertifikat.

Dalam persidangan telah didengar keterangan terdakwa diketahui pengambilan barang bukti sertifikat atas izin Ecky Lamoh dan sebelumnya sudah ada kesepakatan secara lisan bahwa akan bertemu di kantor notaris Agatha. Saat dikaitkan dengan para saksi dan fakta di persidangan terdakwa terbukti mengambil dan membawa barang bukti tersebut didasarkan adanya kesepakatan secara lisan.

Sehingga, kata penasihat hukum, tidak ada niatan terdakwa untuk mencari keuntungan semata dengan melawan hukum. Justru Ecky Lamoh telah lalai atau wanprestasi atas kesepakatan bersama yang telah disepakati. Untuk itu unsur pidana penggelapan dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu tidak terpenuhi. Karena terbukti dalam persidangan tidak ada kesalahan yang dilakukan terdakwa.

“Mohon menjadi pertimbangan majelis bahwa mensrea atau sikap batin terdakwa pada saat terjadi tindak pidana tersebut tidak ada niat untuk melawan hukum karena perbuatan terdakwa didasarkan peristiwa sebelumnya. Karena telah terjadi kesepakatan bersama antara saksi korban, terdakwa dan istrinya Dana Cristina,” lanjut Enji menjelaskan.

Selain itu, dalam persidangan saksi notaris Agatha menyatakan belum terjadi peralihan hak atas keempat sertifikat. Keterangan tersebut dibenarkan Ecky Lamoh dan istrinya saksi Maria Marhaeni. Keempat sertifikat tersebut sejak diserahkan terdakwa sampai diserahkan penyidik, terdakwa sama sekali belum melakukan tindakan pemilikan seperti menjual, menggadaikan atau tindakan hukum lainnya.

Dan keberadaan empat sertifikat tersebut sangat jelas, tidak ada niatan terdakwa untuk membuat empat sertifikat menjadi gelap/menyembunyikan. Dan tidak ada peranan/perintah terdakwa yang menyuruh saksi notaris agatha agar menyembunyikan empat sertifikat tersebut dari saksi Alexander Theodore Lamoh. (C-5)



Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-TRI DARMIYATI Petugas Dishub Kota Yogyakarta menindak jukir nakal di lahan persil warga di timur TKP Sriwedani karena tak berizin dan menerapkan tarif tak sesuai ketentuan.
JERATAN TIPIRING JAUH DARI HARAPAN Ancaman Denda Rp 50 Juta, Dihukum Denda Rp 300 ribu

YOGYA (MERAPI)- Denda dan sanksi juru parkir nakal yang menjalani sidang tindak pidana ringan (tipiring) di PN Yogya dinilai masih

Close