PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (2) – Desas-sesus Penyerbuan Mulai Didengar

KUMPENI Belanda tetap tidak mau bersikap merendahkan diri, sehingga kemudian menyebabkan hubungan Mataram-Kumpeni semakin buruk. Tahun 1627 perhatian Mataram tersedot oleh peperangan dalam negerinya sendiri akibat perlawanan Pati di bawah Adipati Pragola (Bragola). Tahun ini bagi Belanda cukup menguntungkan karena Belanda atau Kumpeni tidak perlu terlalu memikirkan Mataram yang sibuk dengan perangnya sendiri. Sekalipun demikian pada tahun berikutnya, yakni 1628 setelah Pati ditaklukkan, Belanda menjadi pusat perhatian Mataram lagi. Tahun itu pulalah Sultan Agung memerintahkan penyerbuan atau pengepungan Batavia.

Desas-desus atau berita tentang rencana penyerbuan Mataram ke Batavia itu sesungguhnya pula telah didengar oleh seluruh warga yang tinggal di Batavia. Tentu saja hal ini menimbulkan kecemasan, kegelisahan, bahkan ketakutan. Belanda harus memutar otak untuk mengatasi rencana penyerbuan Mataram ini. Lebih-lebih mengingat bahwa jumlah mereka lebih sedikit dari pada warga dan prajurit Mataram yang dapat dikerahkan oleh Sultan Agung.

Tanda-tanda bahwa Jawa (Mataram) akan melakukan sesuatu yang luar biasa sesungguhnya juga bisa terbaca. Salah satunya misalnya dengan penutupan hampir seluruh pantai di Jawaatas komando Tumenggung Baureksa dari Kendal. Penutupan ini telah dimulai di awal tahun 1628. Bahkan di dalam pandangan Belanda apa yang dilakukan Mataram atas penutupan pantai ini dianggap sebagai pekerjaan yang rapi sehingga semua orang asing yang akan mengunjungi Kerajaan Mataram ditahan di pantai. Barangkali hal ini semacam politik isolasi Mataram dari pihak asing. Dampak dari tindakan ini di antaranya adalah penutupan kantor perdagangan Inggris di Jepara untuk beberapa waktu.

Desas-desus tentang rencana penyerbuan Mataram ke Batavia sebenarnya telah cukup lama didengar di Batavia sehingga hal ini menimbulkan ketidaktenteraman penduduk atau warga yang tinggal di Batavia. Menurut desas-desus ini Mataram akan menyerang Batavia dengan 48.000 hingga 100.000 orang prajuritnya. Selain desas-desus ini tersiar pula berita bahwa Banten juga akan ikut menyerang Batavia dari arah barat. Berita tentang rencana penyerangan Banten atas Batavia diperkarakan akan terjadi pada Hari Natal tahun 1627. Berita ini juga ikut membuat suasana di Batavia semakin tidak tenteram.

Pada sisi lain tanggal 13 April 1628 Kyai Rangga atas nama Tumenggung Tegal mengirimkan beras dengan 14 kapal untuk Batavia. Kyai Rangga adalah saudara Tumenggung Tegal. Dengan kiriman ini ia meminta dengan sangat agar orang-orang Belanda membantu Sultan Agung untuk menaklukkan Banten. Untuk pendahuluan hendaknya Belanda mengirimkan seorang utusan ke kota istana Mataram. Permohonan yang pertama dipertimbangkan, namun permohonan terakhirnya ditolak karena semua pelabuhan di Jawa ditutup dengan ketat oleh Mataram.

Tanggal 22 Agustus 1628 di pelabuhan Batavia atas nama Tumenggung Baureksa, panglima tertinggi armada Jawa datang dengan suatu eskader (kelompok kecil satuan kapal perang) yang terdiri dari 50 gorab (perahu layar berukuran panjang dan berbilik pada bagian tertentu) dan kapal-kapal lain. Kapal-kapal ini memuat 150 hewan ternak, 120 last beras (1 last kurang lebih=30 liter), 10.600 ikat padi, 26.000 butir kelapa, 5.900 ikat batang gula, dan berbagai keperluan hidup lain yang dilengkapi dengan 900 awak kapal. Kelompok ini masih mengharapkan kedatangan 27 kapal lain yang datang dengan muatan ternak.

Kedatangan kapal-kapal dalam jumlah besar yang mendadak di Batavia ini menimbulkan kecemasan di pihak Belanda. Hewan-hewan sebagian besar diturunkan, kapal-kapal sebagian besar ditahan di luar pelabuhan oleh Belanda dan hal ini menimbulkan kemarahan besar bagi orang-orang Jawa. Pada malam hari, 24 Agustus 1628 datang lagi tujuh kapal dengan tujuan Malaka. Kapal-kapal ini hanya minta surat izin jalan (surat pas). Belanda mengusahakan untuk memisahkan tujuh kapal terakhir ini dari kapal-kapal yang datang lebih dulu agar kapal-kapal ini tidak sempat menyampaikan senjata dan peralatan apa pun yang dapat digunakan untuk menyerang Batavia pada kapal (rekan-rekan) mereka yang datang lebih dulu. Namun akhirnya usaha ini gagal. Kapal-kapal tersebut akhirnya dapat berkumpul dengan kapal-kapal yang terdahulu. (Albes Sartono)

Read previous post:
Cocor Bebek Lawan Muntah Darah

TANAMAN jenis cocor bebek dapat dimanfaatkan sebagai tananam hias, baik ditanam di tanah langsung maupun pot. Selain itu cocor bebek

Close