PERPINDAHAN KERAJAAN MATARAM HINDU KE JAWA TIMUR – Keraton Telah Meninggalkan Religi atau Kutukan Para Dewa?

PADA abad ke-10, Kerajaan Mataram Kuno berpindah dari wilayah Jawa Tengah ke Jawa Timur. Benarkah perpindahan itu akibat letusan Gunung Merapi pada waktu itu ? Atau terkena kutukan para Dewa? Dampak letusan Gunung Merapi, banyak orang meninggal dunia serta bangunan roboh rusak berat karena bencana alam. Untuk itulah maka raja menghendaki perpindahan kerajaan Mataram Hindu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Bagaimana sebenarnya?

Dalam buku Babad Tanah Jawi diceriterakan, Mpu Sendok raja Mataram Hindu terakhir beranggapan, sebuah wilayah kerajaan kalau sudah berulang kali dilanda bencana, baik gempa bumi atau gunung meletus dalam kurun tiga generasi maka pusat kerajaan harus dipindahkan.

Bencana letusan Gunung Merapi hanyalah salah satu faktor penyebab, namun yang utama Tuhan telah memberi azab atau kutukan. Sebab keraton pada waktu itu telah meninggalkan kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan atau religi. Dengan demikian adanya letusan Gunung Merapi, dipercaya sebagai kutukan para Dewa.

Disisi lain pergantian kekuasaan Mataram Hindu akhir abad 9 memang nampak tidak wajar, Maharaja Balitung yang berkuasa pada tahun 898-910 menggantikan Rakai Watuhumalang, mestinya yang berhak menjadi raja adalah Daksa. Karena Balitung hanyalah mantu dalem, menikah dengan kakak perempuan Daksa.
Nah, pada waktu kekuasaan Raja Balitung inilah, kehidupan religi mulai hilang. Meski Balitung menyatakan bahwa dirinya telah berbakti kepada lima bangunan suci, tetapi kenyataanya malah mengabaikan hubungannya dengan Sang Pencipta. Balitung menyebutkan hal pernikahannya dengan puteri raja, dengan demikian mestinya sadar dia tidak berhak atau sah naik tahta menggantikan raja karena kedudukannya hanya seorang mantu,

bukan putera mahkota.

Daksa menggantikan Balitung, kemudian digantikan Tulodong dan Wawa, Dua nama terakhir disebutkan, tidak memiliki latar belakang yang jelas sebagai pengganti raja yang sah. Dalam ceritera itu disebutkan, Tulodong hanyalah seseorang yang berpangkat rendah sedangkan Wawa adalah anak seorang pemberontak pada zaman Raja Kayuwangi. Itulah siklus pergantian raja sejak Balitung hingga Wawa, terjadi hal-hal yang tidak wajar. Akibatnya jelas, dalam situasi politik yang tidak menentu membuatn perekonomian kacau. Ditambah berbagai bencana, letusan Gunung Merapi yang hebat, membuat semakin lengkap kutukan para Dewa. Untuk itulah Mpu Sendok sebagai raja Mataram Hindu terakhir beranggapan, pusat pemerintahan harus dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur agar dapat warna baru dan pemerintahan baru.(Ki Sabdo Dadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
TEROR KEKERASAN KEMBALI TERJADI DI BANTUL Musim Libur Sekolah, Aksi Klitih Meningkat

JETIS (MERAPI)- Hampir seminggu libur sekolah, aksi klitih jutsru marak terjadi di Bantul. Dalam dua hari terakhir, tercatat ada dua

Close