PAGUYUBAN PANATACARA YOGYAKARTA-Rangkul Generasi Muda, Bagian dari Regenerasi

Potong tumpeng oleh Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY mengawali sarasehan dan kepyakan badan hukum PPY. (MERAPI-SULISTYANTO)

DAERAH Istimewa Yogyakarta ditetapkan menjadi Kota Kebudayaan Asean (Asean City of Culture) sejak Oktober 2017 lalu. Sebutan berlaku selama dua tahun 2018-2020 dan cukup membanggakan, sebab bisa mengalahkan provinsi lain seperti DKI Jakarta dan Bali. Adanya penetapan seperti ini, segenap pengurus dan anggota Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) akan mampu ikut menjadi kian regeng.

Hal demikian diungkap Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo SH Med saat membuka Sarasehan PPY dan Kepyakan Badan Hukum PPY No AHU.009705.AH.01.07 Tahun 2018 di Pendopo Kantor Dinas Kebudayaan DIY, baru-baru ini. Ditambahkan Singgih, setelah mendapatkan badan hukum dari Menkumham RI, diharapkan PPY bisa semakin banyak bersinergi dengan berbagai pihak, seperti dengan Dinas Kebudayaan DIY untuk menggelar pelatihan-pelatihan panatacara.

“Peran panatacara sangat dibutuhkan di masyarakat, bahkan termasuk profesi langka. Keberadaannya perlu dilestarikan dan dikembangkan,” tutur Singgih.

Ketika panatacara banyak menggunakan Bahasa Jawa, lanjutnya, bagian dari usaha nguri-nguri keberadaan bahasa Jawa. Tak kalah penting, jika menggelar pelatihan perlu merangkul juga banyak generasi muda, tak hanya putra saja tapi juga putri. Pasalnya hal ini termasuk bagian dari usaha regenerasi. Semakin bisa berkembang dan membanggakan lagi, jika setiap kegiatan melibatkan pula peserta dari luar DIY, bahkan luar negeri seperti beberapa negara tetangga dan Suriname.

Sementara itu Ketua PPY Ki Abeje Janoko menjelaskan, jumlah anggota PPY saat ini ada 250 panatacara (MC). Bahkan ada pula anggota sebagai pelaku/praktisi wedding organizer (WO) serta perias pengantin yang antusias ikut bergabung. Asal anggota tak hanya DIY saja, namun ada pula berasal dari daerah lain seperti Magelang, Kudus, Semarang, Bekasi, Kebumen dan Purworejo.

“Kami mempunyai agenda rutin, satu di antaranya sarasehan. Saat ini kegiatan sarasehan dibarengi dengan kepyakan Badan Hukum PPY dan pengukuhan pengurus harian PPY. Pengurus dan anggota PPY asal DIY maupun luar DIY antusias datang,” tambahnya.

Pembicara sarasehan bertema Sarwaneka Panatacara, yakni Wigung Wratsangka, Angger Sukisno serta Teguh Subroto. Adapun susunan pengurus PPY periode 2018-2020 yang dikukuhkan, yaitu Pelindung Kepala Dinas Kebudayaan DIY. Penasihat: Suwarna Dwija N, Wigung Wratsangka, Jack Haryanto, Angger Sukisno dan Teguh Subroto. Ketua Ki Abeje Janoko.

Wakil Ketua Faizal Noor Singgih. Sekretaris: Kistanta R, Mbah Suto Wiyoso dan Yuana Agus Dirgantara. Bendahara: Tri Supardi dan Jumiran BP.
Selain itu dilengkapi beberapa seksi, antara lain humas, pengembangan keorganisasian PPY dan pengembangan program PPY. Masih ada lagi seksi seni dan budaya, usaha dan dana, sarana, publikasi dan umum. Bahkan dilengkapi korwil, baik dari Sleman, Kota, Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo. (Yan)


Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-TRI DARMIYATI GKR Hemas menyatakan sikap menolak keputusan penghentian sementara dirinya sebagai anggota DPD RI oleh BK DPD RI.
Diberhentian Sementara dari DPD, GKR Hemas Melawan

UMBULHARJO (MERAPI)-Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas menolak sanksi pemberhentian dirinya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Dia mempertanyakan keputusan

Close