ISU PEMOTONGAN SALIB MAKAM DI KOTAGEDE DILEBIH-LEBIHKAN Warga Adem Ayem, Heboh di Media Sosial

MERAPI-TRI DARMIYATI Gubernur DIY Sri Sultan HB X didampingi Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat memberikan keterangan mensikapi kejadian pemotongan salib pada makam warga di Purbayan Kotagede.
MERAPI-TRI DARMIYATI -Gubernur DIY Sri Sultan HB X didampingi Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti saat memberikan keterangan mensikapi kejadian pemotongan salib pada makam warga di Purbayan Kotagede.

UMBULHARJO (MERAPI) -Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X buka suara terkait isu dugaan pemotongan salib pada makam Albertus Slamet Sugihardi di RT 53 RW 13 Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogya. Sultan beranggapan isu itu dilebihkan dan menjadi heboh di media sosial. Sebab faktanya, warga dan keluarga almarhum sudah sepakat bahwa Slamet dimakamkan di pemakaman itu.
Untuk itu, Sultan pun mengajak masyarakat di Yogyakarta menjaga persatuan dan kesatuan. Sultan mengatakan suasana kondusif dalam masyarakat Yogyakarta yang majemuk perlu dibangun. Diharapkan peran pemangku wilayah kota, kecamatan hingga kelurahan turut mendukung.

“Komitmen persatuan kesatuan kita pegang. Yogya sudah jadi bagian dari Indonesia. Baik warga Yogya asli maupun pendatang. Bahwa kemajemukan menjadi kekuatan, bukan kelemahan yang disobek-sobek,” kata Sultan HB X dalam jumpa pers di Balaikota Yogya, Kamis (20/12).
Pernyataan Sultan HB X itu menanggapi terkait peristiwa dugaan pemotongan salib pada makam Albertus Slamet Sugihardi, RT 53 RW 13 Kelurahan Purbayan. Peristiwa itu menjadi viral di media sosial setelah almarhum dimakamkan di makam kampung Jambon setempat. Di media sosial, isu itu berkembang liar yang menyudutkan warga kampung karena dianggap intoleransi dengan menolak makam warga non muslim. Padahal faktanya, pemotongan salib itu atas dasar kesepakatan warga dengan keluarga. Sebab di makam itu sebagian besar makam muslim sehingga warga menghendaki tak ada simbol tersebut.

Sultan mengatakan pihaknya telah melakukan dialog dengan warga di wilayah itu melalui tokoh masyarkat dan kevikepan Gereja Pringgolayan Banguntapan yang hadir di Balaikota kemarin. Berdasarkan dialog itu, dia menilai persoalan yang viral itu dilebihkan. Dikatakan, pemahaman masyarakat belum tentu sama dalam melihat keadaan dan kondisi faktual secara kronologis utuh.
“Memang ada kesepakatan antara warga dengan keluarga Slamet (soal pemakaman almarhum Slamet). Tapi yang menjadi isu justru salib yang dipotong. Kami memahami dan mengerti aturan konstitusi, tapi belum semua bisa paham masalahnya,” paparnya.
Menurutnya peristiwa itu menjadi pembelajaran bagi semua. Bahwa agama dan simbol–simbol itu, lanjutnya dijamin dalam konstitusi. Dalam kesempatan itu pihaknya meminta maaf kepada keluarga almarhum Slamet dan kevikepan karena dengan kejadian itu menjadi terganggu. Dia juga berharap agar kejadian itu tidak terulang.

“Ada kekurangtanggapan. Kesepakatan warga itu baik untuk menjaga harmoni kerukunan masyarakat. Kesepakatan masyarakat harus kita hargai. Tapi pembina wilayah bisa mengingatkan, kalau ada yang bertentangan dengan Undang Undang, diberitahu agar tidak keliru,” tambah Sultan HB X.
Dalam konteks di Purbayan Kotagede itu,dia berpendapat masyarakat sudah ada rasa sitik idhing

. Bagaimana almarhum dimakamkan di sana, warga juga melayat dan ikut berperan mengantarkan jenazah. Apalagi Almarhum selama ini juga aktif berkegiatan di masyarakat seperti menjadi pelatih koor warga. Selain itu ada tepa slira sehingga masyarakat dalam peristiwa pemakaman dalam kondisi guyup dan rukun. Sedangkan prinsip Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono menurutnya tidak dijalankan secara tepat.
Sementara itu Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti menyatakan sudah berupaya melakukan pertemuan dengan pihak keluarga almarhum di rumah, tapi tidak di tempat. “Konstruksi sosial di sana tidak terjadi apa-apa. Yang di luar ini yang “tensinya” tinggi,” imbuh Haryadi.

Ditambahkan selama ini belum ada aturan spefisik terhadap pemakaman yang berada di kampung. Terutama mengenai status tanah dan siapa yang dimakamkan. Pengaturan makam di kampung tergantung kearifan masyarakat.
Sedangkan Ketua RW 13 Purbayan Slamet Riyadi menyebut sejak keberangkatan jenazah sampai pemakaman pada Senin (17/12), almarhum sudah ada kesepakatan antara keluarga dengan warga. Kesepakatan itu ditandatangani pihak keluarga almarhum serta Ketua RT/RW. Dia menilai selama ini hubungan masyarakat dengan keluarga almarhum adem ayem.(Tri)

Read previous post:
MERAPI-NOOR RIZKA Polisi menunjukkan sajam yang dibawa oleh tersangka Ya (tengah).
PELAKU EMOSI DITEGUR TIDUR SEMBARANGAN Diamuk Pemabuk Bawa Pedang, Pilih Sembunyi di Toilet

DANUREJAN (MERAPI)- Seorang pemabuk, Ya (20) warga Umbulharjo, Yogya menyerang Muzid Achmadi (54) warga Tegalpanggung, Danurejan, Yogya menggunakan pedang panjang,

Close