PERINGATI HARI HAM, MAHASISWA GELAR AKSI-Korban Penembakan di Papua 13 Tahun Tinggal di Yogya

MERAPI-SAMENTO SIHONO Aksi solidaritas di pertigaan Janti, Condongcatur, Depok, Sleman, Senin (10/12).
MERAPI-SAMENTO SIHONO
Aksi solidaritas di pertigaan Janti, Condongcatur, Depok, Sleman, Senin (10/12).

DEPOK (MERAPI)- Untuk memperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM), sejumlah mahasiswa di Yogya mengelar aksi solidaritas bagi korban pembunuhan di Nduga, Papua, Senin (10/12). Salah satu korban penembakan brutal itu, Emanuel Beli Naikteas Bano pernah tinggal di Yogya selama 13 tahun sebagai mahasiswa dan pengusaha kafe.
Di dalam aksi ini, sejumlah mahasiswa menyalakan lilin dan membawa poster bergambar wajah Emanuel Beli Naikteas Bano. Di poster itu juga tertulis korban penembakan dan pelanggaran HAM berat di Nduga, Papua. Sejumlah mahasiswa memulai aksinya dengan menyalakan lilin di pertigaan Janti, Condongcatur, Depok, Sleman, Senin (10/12).

“Kita sengaja menggelar aksi solidaritas untuk memperingati hari HAM internasional,” ujar perwakilan aksi solidaritas, Yasintus Olla (30).
Selain memperingati hari HAM internasional, ujar dia, aksi itu juga untuk menyikapi peristiwa penembakan di Nduga, Papua. Penembakan itu menyebabkan beberapa pekerja pembangunan jembatan Trans Papua meninggal.
Menurutnya, pihaknya mengecam keras terhadap aksi kekerasan para pekerja pembangunan jembatan Trans Papua. Dia juga meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas aksi kekerasan di Nduga, Papua.

“Ada salah satu korban yang dulu kuliah di Yogyakarta, namanya Emanuel Beli Naikteas Bano,” katanya.
Sementara itu, salah satu inisiator aksi, Ermalindus Albinus Joseph Sonbay mengatakan, peristiwa penembakan pekerja di Nduga, merupakan pelanggaran HAM berat.
“Kasus di Nduga merupakan pelanggaran HAM berat,” jelasnya.
Dia menyebut, Emanuel Beli Naikteas Bano berada di Nduga, Papua, untuk bekerja. Korban pernah hidup di Yogya itu hampir 13 tahun, kuliah dan sempat membuka cafe.

“Emanuel Beli Naikteas Bano, bekerja di PT Istaka Karya kurang lebih satu tahun tiga bulan. Ia bertugas sebagai pengawas di kantor lapangan,” katanya.
Ermalindus mengaku sempat satu kontrakan dengan Emanuel Beli Naikteas Bano. Ia mengenal Emanuel Beli Naikteas Bano sebagai sosok yang baik dan tidak pernah marah.
“Selama berinteraksi, kami sama-sama di kontrakan, almarhum itu tidak pernah marah. Mudah bergaul dengan teman maupun masyarakat sekitar,” pungkasnya.(Shn)

Read previous post:
Gula Semut Kulonporgo Berkualitas Ekspor

WATES (MERAPI) - Kementerian Perndustrian mendorong produsen asli gula semut di Kabupaten Kulonprogo agar lebih berani lagi merambah pasar ekspor

Close