PASCATALUT LONGSOR DI PRAWIRODIRJAN-Momentum Mundur Munggah Madep Kali

Warga dan relawan KTB Prawirodirjan kerja bakti membersihkan material bangunan balai RW yang dirobohkan setelah ambrol pada Rabu (5/12). (MERAPI-TRI DARMIYATI)

UMBULHARJO (MERAPI) – Pemerintah Kota Yogyakarta akan mengevaluasi pemukiman di bantaran sungai. Kejadian talut longsor seperti di bantaran Sungai Code di Prawirodirjan pada Rabu (5/12) menjadi momentum untuk menata rumah warga.

“Ke depan ada evaluasi semua pemukiman di bantaran sungai. Kami sudah ada memorandum penataan pemukiman dari program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), sudah ada warga yang siap mundur (rumahnya),” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, Kamis (6/12).

Mengacu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28 Tahun 2015 tentang penetapan garis sempadan sungai dan danau disebutkan jarak sempadan sungai untuk sungai di perkotaan yang memiliki tanggul adalah 3 meter. Sedangkan sungai yang belum dilengkapi tanggul maka memiliki garis sempadan 10 meter.

Diakuinya ada pemukiman yang berada di bantaran sungai wilayah perkotaan, sehingga akan dilakukan penataan secara bertahap berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat.

“Akan kami tata secara berjenjang. Pemukiman di bantaran Sungai Gajah Wong di Muja Muju jadi contoh penataan,” ujarnya.

Dia menyatakan konsep penataan pemukiman bantaran di Muja Muju itu menggunakan konsep <I>Mundur Munggah Madep Kali<P> (mundur, naik, menghadap ke sungai) dengan kesepakatan bersama warga. Warga yang rumahnya mundur dipangkas hingga 25 persen menjadi kewajiban Pemkot Yogyakarta untuk membiayai perbaikan rumah.

Terhadap rumah-rumah warga di Kampung Prawirodirjan RT 59 RW 18 Kecamatan Gondomanan yang terdampak longsor talut di Sungai Code juga akan dilakukan penataan. Namun konsep penataan nantinya akan dimusyawarahkan bersama warga. Dia menyampaikan apakah penataan dengan M3K atau lainnya akan dilihat dulu kesepakatan dengan warga. Mengingat talut adalah fasilitas publik dan ruang bantaran sungai sehingga keliru jika untuk tempat tinggal.

“Sebenarnya itu air mencari jalan, itu jalannya air. Warga sudah paham dan tahu. Nanti kami akan tata di 2019 warga yang terdampak, sebagai titik awal untuk penataan permukiman bersama-sama warga. Kami sudah diskusi dengan camat warga siap untuk mundur. Dengan adanya kejadian itu masyarakat sudah tahu risikonya (di bantaran),” terang Agus.

Sedangkan penanganan talut dilakukan sementara dengan dibronjong untuk keamanan. Perbaikan talut permanen diusulkan ke Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO). Warga di Prawirodirjan bersama relawan Kampung Tangguh Bencana (KTB) Prawirodirjan juga melakukan pembersihan. Alat berat dari PUPKP juga sudah diturunkan.

“Untuk sementara antisipasi kalau terjadi banjir lagi, ini Balai RW dirobohkan. Ini, kebijakan penangan dari pemerintah karena di bawah sudah <I>growong<P> bisa berdampak longsor ke lainnya dan membahayakan warga,” tambah Ketua KTB Prawirodirjan, Agus Supriyanto.

Dia menuturkan, untuk rumah warga yang terdampak belum dirobohkan karena menjadi urusan pemerintah. Warga terdampak sementara masih mengungsi. Selain itu juga dilakukan pengerukan untuk meluruskan aliran sungai karena selama ini aliran cenderung ke kanan dan menggerus talut. (Tri)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-BENI WIDYASWORO Presiden RI, Joko Widodo berswafoto dengan siswa Mualimin Muhamadiyah Yogyakarta.
PRESIDEN HADIRI MILAD 1 ABAD MUALIMIN-Hargai Perbedaan Pilihan Sebagai Anugrah

YOGYA (MERAPI)- Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo hadir dalam Milad 1 Abad Mualimin-Mualimat Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (6/12). Dalam kesempatan tersebut,

Close