Nonton Film di Silvia Perpustakan Yogya

Literasi film dapat dilayani di ruang Sinema Literasi Visual yang kini tersedia di Perpustakan Yogyakarta. (MERAPI-ISTIMEWA)

MENOTON film di perpustakaan apa bisa? Tentu bisa. Perpustakan kini telah berkembang tidak hanya memberikan ruang literasi melalui membaca dan meminjam buku. Tapi juga menyediakan layanan literasi film. Seperti yang mulai dikembangkan Perpustakaan Kota Yogyakarta melalui layanan Sinema Liteasi Visual (Silvia) untuk pemustaka.

Namun bukan sembarangan film yang dapat ditonton pada layanan Silvia. Film-film yang berisi pesan positif yang disediakan di salah satu ruang di lantai satu Perpustakaan Kota Yogyakarta di Kotabaru. Layanan itu dapat dinikmati pemustaka secara gratis.

“Melalui layanan Silvia ini kami ingin menunjukkan bahwa layanan literasi tidak harus dilakukan dengan peminjaman buku maupun buku digital. Tetapi bisa dilakukan melalui kegiatan menonton film,” terang Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, saat peluncuran Silvia beberapa hari lalu.

Ruangan Silvia menyediakan fasilitas di antarnya alat pemutar film, LCD proyektor, televise dan <I>sound system<P>. Selain itu dilengkapi AC sehingga ruangan cukup nyaman untuk menonton film. Namun diakuinya ruangan itu masih perlu penyempuranaan dengan menambah peredam suara agar tidak ada suara yang keluar dan mengganggu pemustaka yang sedang membaca buku.

Kini Perpustakaan Kota Yogyakarta melalui Silvia sudah memutar film secara rutin pada Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu di jam-jam tertentu. Khusus Selasa dan Kamis dilakukan pemutaran satu kali sehari. Tapi pada Sabtu dan Minggu penayangan film dilakukan dua kali sehari.

Lantaran ruangan Silvia terbatas untuk 18 orang, maka pemustaka yang akan mengaksesnya harus mendaftar guna mendapatkan tiket. “Pemustaka bisa menonton secara gratis tetapi menggunakan tiket masuk karena kapasitas ruangan terbatas. Nonton filmnya, lesehan,” paparnya.

Ada sekitar 50 judul film dengan berbagai genre dari dalam dan luar negeri yang kini dimiliki Perpustakaan Yogyakarta. Misalnya film animasi dari luar negeri yang cukup populer di masyarakat yakni Moana. Dia menyatakan semua koleksi film itu asli, bukan bajakan.

Dia menegaskan semua koleksi film itu sudah disaring dan dipastikan memiliki konten atau pesan yang positif. “Jika ada masyarakat yang ingin memanfaatkan Silvia untuk menonton film yang dibawa sendiri, bisa. Tapi petugas akan menyortir film itu dulu untuk memastikan agar konten yang ditonton tidak bermuatan hal-hal negatif,” ucap Wahyu.

Pemustaka bisa langsung datang ke Perpustakaan Kota Yogyakarta untuk mengakses layanan. Tapi jika pemustaka yang mengakses Silvia cukup banyak, maka pemustaka diminta untuk melakukan reservasi terlebih dulu sekitar dua sampai tiga hari sebelum memanfaatkan layanan.

Perpustakaan Kota Yogyakarta akan membagikan tiket kepada pemustaka terpilih, di antaranya pemustaka yang rutin meminjam buku dan mengembalikannya tanpa terlambat. Termasuk untuk siswa sekolah yang berkunjung ke perpustakaan. Layanan Silvia juga akan direplikasi di Perpustakaan Alternatif Kota Yogyakarta (Pevita) di Jalan Mayjend Sutoyo. (Tri)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ATASI BIAYA MAHAL ALAT PENGOLAH LIMBAH-Mahasiswa UNY Buat Eco Burner Ekonomis

SEBAGAI pengguna energi fosil, Indonesia memiliki banyak limbah minyak bekas, seperti oli bekas kendaraan dan sludge oil. Limbah minyak ini

Close