DR. INDRIA LAKSMI GAMAYANTI: Perlu Penguatan Panduan Pendidikan Anak

MERAPI-TEGUH Suasana sarasehan budaya Malam Sabtu Kliwon di Ndalem Kepatihan Pakualaman.
MERAPI-TEGUH
Suasana sarasehan budaya Malam Sabtu Kliwon di Ndalem Kepatihan Pakualaman.

TUNTUTAN perkembangan zaman saat ini memberikan dampak kepada kelompok keluarga muda dalam pola pengasuhan anak. Banyak orang tua kehilangan panutan atau pegangan bagaimana mengasuh anak-anak mereka. Kebanyakkan keluarga muda untuk mengejar terpenuhinya kebutuhan hidup, mengharuskan keduanya bekerja di luar rumah. Akibatnya pengasuhan anak sering kali diserahkan kepada pengasuh atau orang lain. Demikian diungkap Dr. Indria Laksmi Gamayanti, Psikoklinis RSUP Dr. Sardjito yang juga dosen Fakultas Kedokteran UGM, dalam Sarasehan Budaya di Ndalem Kepatihan Pakualaman, Jumat (30/11) malam.

Lebih lanjut menurut Gamayanti, begitu sapaan akrab pemilik Lembaga Pengembangan Kepribadian Kemuning Kembar Margoyasan ini, perlu adanya penguatan kembali lembaga keluarga serta panduan pendidikan anak yang berbasis pada budaya dan tradisi Jawa. Sebab saat ini banyak anak-anak sudah kehilangan akar budayanya, selama berada dalam pengasuhan yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu.

“Perlu kembali memberikan panduan pola asuh pada anak Balita khususnya yang berbasis pada budaya dan tradisi Jawa. Anak-anak saat ini sudah sedikit yang mengenal tradisi dan budaya lokal orangtuanya,” tutur Gamayanti bernada prihatin.

Dijelaskan juga, dengan memegang teguh kebudayaan, tatanan serta tradisi Jawa bukan berarti merupakan kemunduran. Bahkan dicontohkan Gamayanti, negara-negara yang secara konsisten berpegang pada nilai tradisi lokalnya seperti, Tiongkok, Jepang dan Korea dapat mengalami perkembangan yang sedemikian pesat. Kebudayaan dan tradisi merupakan salah satu identitas bangsa yang seharusnya memberikan rasa bangga serta percaya diri sebagai bangsa. Disamping itu, nilai-nilai lokal yang menjadi warisan budaya leluhur banyak memberikan pelajaran terkait dengan pola pikir dan gaya hidup serta kearifan dalam mensikapi perkembangan zaman yang sedemikian hebat ini.

Menurut Gamayanti dengan mensitir petuah dari Ki Hajar Dewantara memaparkan, salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Dan lebih lanjut dikatakannya, Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau dia hidup dalam budayanya sendiri.
“Sehingga menjadi penting pola pengasuhan dan pendidikan kita dikembalikan pada nilai-nilai kearifan lokal dalam penanaman morak dan etika kepada anak-anak. Sehingga saya sepakat ketika pendidikan anak sejak dini sampai kelas tiga sekolah dasar, menggunakan bahasa ibu sebagai pengantarnya di sekolah,” tandasnya.

Dalam tradisi Jawa demikian papar Gamayanti, cara pengasuhan dan memberikan pendidikan pada anak-anak dilakukan dengan cara Tuladha artinya memberi contoh lewat Dolanan atau permainan, Dongeng dengan bertutur cerita, tembang Dolanan dan tembang Piwulang. Melalui berbagai cara yang pernah dilakukan orangtua zaman dulu, ternyata terbukti efektif dengan menggunakan budaya dan tradisi serta bahasa Jawa.

“Unggule bangsa iku katitik saka basane, yen basane katileb karo basa bangsa liya. Ateges bangsa kuwi kasoran,” pungkas Gamayanti. (Teguh)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
TERSANGKA MALU DITANGKAP POLISI-Perampok Bunuh Diri di Penjara

BANTUL (MERAPI)- Seorang tahanan yang mendekam di penjara Polsek Jetis, Bantul, An (32) asal Banguntapan, Bantul nekat mengakhiri hidupnya dengan

Close