BMKG Perkirakan Jateng Curah Hujan Sedang

Pemaparan cuaca oleh BMKG Jawa Tengah. (Foto:Abdul Alim)
Pemaparan cuaca oleh BMKG Jawa Tengah. (Foto:Abdul Alim)

KARANGANYAR (MERAPI) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memperkirakan curah hujan sedang di wilayahnya pada awal musim penghujan November-Desember 2018. Puncak curah hujan pada Januari dan peralihan ke musim kemarau perlu lebih diwaspadai.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jawa Tengah, Iis W Harmoko di hadapan peserta Rakor Menghadapi Musim Penghujan di ruang Pondang 1 kantor bupati, Selasa (27/11). Dikatakannya, fenomena El Nino menyebabkan hujan di wilayah Indonesia kurang. Itu juga faktor utama kemarau berkepanjangan di sebagian wilayah di Indonesia.

“Perairan Indonesia lebih minim hujan atau musim hujannya mundur dari biasanya. Secara umum, mundur 10-30 hari,” katanya di acara yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar ini.

Di Jawa Tengah, meskipun sebagian wilayahnya merasakan hujan, namun pada waktu tertentu tetap terik. Curah hujan di awal musim penghujan dalam takaran sedang, yakni antara 100-300 milimeter. Penduduk di wilayah rawan banjir bisa nyicil ayem karena belum signifikan faktor pemicu bencana itu.

Ia mengingatkan masyarakat cerdas menyikapi fenomena alam yang mengiringinya. Seperti kemunculan awan hitam rendah cumulonimbus di langit Lawu sepekan lalu. Warga di lereng gunung menyaksikan awan pekat itu menyelimuti langit petang sambil memuntahkan kilat bertubi-tubi.

“Itu fenomena wajar. Saat ini matahari di sisi selatan sehingga daerah kita (Jawa Tengah) terpapar energinya lebih banyak. Biasanya, turun hujan siang sampai sore, namun jarang di malam hari. Nah, awan cumulonimbus perlu diwaspadai karena berbahaya bagi penerbangan. Petirnya berbahaya bagi pendaki gunung,” katanya.

Sedangkan pada puncak musim penghujan pada Januari dan pancaroba di pertengahan 2019, diprediksi cuaca ekstrem dengan hujan intensitas tinggi dan berdurasi panjang serta fenomena alam yang mengikutinya seperti angin puting beliung.

Sementara itu, PPK OP I Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Antonius Suryono mengatakan faktor alami minim memicu banjir di Karanganyar. Selain sedikit memiliki daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, juga tak banyak permukiman di bantaran.

“Jika banjir, itu pasti ulah manusia dan salah mengelola drainase. Ulah manusia seperti penebangan hutan. Iklimnya berubah dan tanah merekah. Selama ini, Karanganyar jauh dari banjir,” katanya.

Bupati Juliyatmono meminta BPBD menggalang kesiapan seluruh stakeholder untuk membersihkan sampah di sungai. Kepada BBWSBS, ia menjajaki kesanggupannya memasang dinding perapet di bantaran Sungai Bengawan Solo yang berbatasan dengan Dusun Daleman, Ngingo, Jaten yang selama ini terendam banjir saat sungai itu meluap. (Lim)

Read previous post:
SATPOL PP SLEMAN CARI SOLUSI – Aksi Vandalisme Sulit Diatasi

SLEMAN (MERAPI) - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman terus berupaya mencari solusi jitu, guna mengatasi maraknya vandalisme

Close